KOMPETENSI
DASAR 3.1
3.1.
MENYIMAK
UNTUK MEMAHAMI SECARA KREATIF TEKS SENI BERBAHASA DAN TEKS ILMIAH
SEDERHANA
- HAKIKAT APRESIASI
Apresiasi
dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal, memahami, dan
menghayati suatu karya sastra yang berakhir pada timbulnya pencelupan
atau rasa menikmati karya tersebut dan berakibat subjek apresiator
dapat menghargai karya sastra yang dinikmatinya secara sadar.
- PROSES APRESIASI
Untuk
mengapresiasi sebuah karya sastra atau teks seni berbahasa, perlu
melakukan aktivitas berupa;
-
- Mendengarkan/menyimak
- Membaca
- Menonton
- Mempelajari bagian-bagiannya
- Menceritakan kembali
- Mengomentari
- Meresensi
- Membuat parafrase
- Menjawab pertanyaan
- Merasakan atau melakonkan
- Membuat sinopsis cerita
Selain
aktivitas merespon, juga melakukan langkah-langakh berikut.
- Menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap karya sastra berdasarkan sifat-sifat karya sastra tersebut
- Menganalisis atau menguraikan unsur-unsur karya sastra tersebut, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya.
- Menikmati atau merasakan karya sastra berdasarkan pemahaman untuk mendapatkan penghayatan
- Mengevaluasi atau menilai karya sastra dalam rangka mengukur kualitas karya tersebut.
- Memberikan penghargaan kepada karya sastra berdasarkan tingkatkualitasnya
- JENIS APRESIASI
- Apresiasi Bersifat Kinetik
yaitu
sikap memberikan minat pada sebuah karya sastra lalu berlanjut pada
keseriusan untuk melakukan langkahlangkah apresiatif secara
aktif. Misalnya,
untuk bentuk karya sastra berupa prosa fiksi seperti cerpen dan
novel, tindakan apresiatifnya ialah memilih cerpen atau novel yang
sesuai kehendaknya. Selanjutnya, membaca dan menyenangi novel
sejenis, menyenangi tema atau pengarangnya, memahami pesan-pesannya,
jalan ceritanya, serta mengenal tokoh-tokoh dan watak tokohnya,
bahkan secara ekstrim ada yang berkeinginan mengindentifikasi diri
menjadi tokoh yang digemari dalam karya prosa tersebut. Puncak dari
sikap apresiasinya ialah ingin dapat membuat karya cerpen atau novel
seperti itu.Setidak-tidaknya dapat memberikan komentar atau tanggapan
tentang hal yang berhubungan dengan novel yang digemari.
- Apresiasi Bersifat Verbal
yaitu
pemberian penafsiran, penilaian, dan penghargaan yang berbentuk
penjelasan, tanggapan, komentar, kritik, dan saran serta pujian baik
secara lisan maupun tulisan.
- PENGERTIAN PROSA
Prosa
ialah karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat
oleh rima, irama, dan kemerduan bunyi seperti puisi. Bahasa prosa
seperti bahasa sehari-hari.
- Prosa Fiksi
ialah
prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi
cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta.Prosa fiksi disebut
juga karangan narasi sugestif/imajinatif. Contohnya: cerpen, novel,
dongeng, legenda, fable, mithe. Bersifat Anonym
Di
dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur
intrinsik. Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu:
- Tema
ialah
inti atau landasan utama pengembangan cerita.Tema dapat bersumber
pada pengalaman pengarang, pengamatan pada lingkungan, permasalahan
kehidupan, dan sebagainya.Misalnya, tentang cinta, kesetiaan,
ketakwaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan warisan,
dan sebagainya.
- Alur/Plot
ialah
jalan cerita atau cara pengarang bercerita. Alur dapat disebut juga
rangkaian atau tahapan serta pengembangan cerita.Alur terdiri atas
alur maju, alur mundur (flash
back),
, dan alur campuran. Tahapan-tahapan alur yaitu:
1) pengenalan
2) pengungkapan
masalah
3) menuju
konflik
4) ketegangan
5) penyelesaian
- Penokohan
ialah
cara pengarang mengambarkan para tokoh di dalam cerita. Penokohan
terdiri atas tokoh cerita, yaitu orang-orang yang terlibat secara
langsung sebagai pemeran sekaligus penggerak cerita dan orang-orang
yang hanya disertakan di dalam cerita.Dan watak tokoh, yaitu
penggambaran karakter serta perilaku tokoh-tokoh cerita.
Untuk
menimbulkan konflik, biasanya dalam cerita terdapat tokoh pro dan
kontra atau yang disebut tokoh protagonis dan antagonis.
- Latar/Setting
Latar
cerita adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang
digunakan dalam suatu cerita.Latar merupakan sarana memperkuat serta
menghidupkan jalan cerita.
- Amanat
Amanat
cerita adalah pesan moral atau nasehat yang disampaikan oleh
pengarang melalui cerita yang dikarangnya. Pesan atau nasehat
disampaikan oleh pengarang dengan cara tersurat yakni dijelaskan oleh
pengarang langsung atau melalui dialog tokohnya; dan secara tersirat
atau tersembunyi sehingga pembaca baru akan dapat menangkap pesan
setelah membaca keseluruhan isi cerita.
- Sudut Pandang Pengarang
Sudut
pandang pengarang atau point
of view ialah
posisi pengarang dalam cerita.Posisi pengarang dalam cerita terbagai
menjadi dua, terlibat dalam cerita dan berada di luar cerita.
- Pengarang terlibat di dalam cerita. Terdiri atas pengarang sebagai pemeran utama (orang pertama), isi cerita bagaikan mengisahkan pengalaman pengarang. Selain itu, keterlibatan pengarang dalam cerita juga dapat memosisikan pengarang hanya pemeran pembantu. Artinya, pengarang bukan tokoh utama atau sentral namun ia ikut menjadi tokoh,
- Pengarang berada di luar cerita, terdiri atas pengarang serbatahu. Ia yang menciptakan tokoh, menjelaskan jalan pikiran tokoh, mengatur dan mereka semua unsur yang ada di dalam cerita. Selain itu, pengarang berada di luar cerita dapat hanya menjadikan pengarang sebagai pengamat atau disebut sudut pandang panoramik. Pengarang menceritakan apa yang dilihatnya, sebatas yang dilihatnya. Ia tidak mengetahui secara bathin tokoh-tokoh cerita. Posisi pengarang seperti ini biasanya terdapat pada cerita narasi yang berupa kisah perjalanan.
- Gaya Bahasa
Gaya bahasa
adalah bagaimana pengarang menguraikan ceritanya.Ada yang
menggunakan bahasa yang lugas, ada yang bercerita dengan bahasa
pergaulan atau bahasa sehari-hari. Ada juga yang bercerita
dengan gaya satire atau sindiran halus, menggunakan
simbol-simbol, dan sebagainya. Penggunaan bahasa ini sangat membantu
menimbulkan daya tarik dan penciptaan suasana yang tepat bagi
pengembangan tema serta alur cerita.Setiap pengarang besar biasanya
sudah memiliki ciri khas penggunaan bahasa dalam ceritanya.
- Prosa Nonfiksi
Prosa
nonfiksi ialah karangan yang tidak berdasarkan rekaan atau khayalan
pengarang, tetapi berisi hal-hal yang berupa informasi factual
(kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang.Prosa nonfiksi
disebut juga karangan semi ilmiah. Yang
termasuk karangan semi ilmiah ialah : artikel, tajuk rencana,
opini, feature,
tips, biografi, reportase, iklan, pidato, dan sebagainya.
- Artikel : ialah karangan yang berisi uraian atau pemaparan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- isi karangan bersumber pada fakta bukan sekadar realita bersifat faktual dengan mengungkapkan data-data yang diketahui pengarang bukan yang sudah umum diketahui (realita)
- uraian tidak sepenuhnya merupakan hasil pemikiran pengarang, tapi mengungkapakan fakta sesuai objek atau narasumbernya
- isi artikel dapat memaparkan hal apa saja seperti, pariwisata, kisah perjalanan, profil tokoh, kisah pengalaman orang lain, satir, atau humor.
- Tajuk Rencana : adalah karangan yang bersifat argumentatif yang ditulis oleh redaktur media massa mengenai hal-hal yang ` faktual dan aktual (sedang terjadi atau banyak dibicarakan orang). Isi tajuk merupakan pandangan atau tanggapan dari penulisnya mengenai suatu permasalahan atau peristiwa.
- Opini : tulisan berisi pendapat, pikiran atau pendirian seseorang tentang sesuatu. Opini termasuk bentuk prosa faktual karena meskipun masih bersifat pendapat penulisnya, namun tetap dalam opini diungkapkan berbagai alasan yang dapat menguatkan pendapat tersebut.
- Feature : atau ficer ialah sejenis artikel eksposisi yang memberikan tekanan aspek tertentu yang dianggap menarik atau perlu ditonjolkan dari suatu objek atau peristiwa yang miliki daya tarik secara emosional, pribadi, atau bersifat humor. Isi feature bukan berita yang aktual, tapi klejadian yang sudah berlalu.
- Biografi : adalah kisah atau riwayat kehidupan seorang tokoh yang ditulis oleh orang lain. Biografi ditulis dengan berbagai tujuan. Salah satunya untuk memberikan informasi bagi pembaca tentang latar belakang kehidupan seorang tokoh dari sejak kecil hingga mencapai karir di kehidupannya kemudian.Biografi termasuk prosa naratif ekspositoris atau prosa faktual yang mengungkapkan fakta-fakta nyata.
- Tips : ialah karangan yang berisi uraian tentang tata cara atau langkah-langkah operasional dalam melakukan atau membuat sesuatu. Disajikan dengan ringan, sederhana, dan bahasa yang populer. Karangan ini termasuk jenis artikel ekspositoris.Contoh tips membasmi ketombe, tips merawat busi, dsb.
- Reportase : ialah karangan yang berupa hasil laporan dari liputan suatu peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung atau belum lama berlangsung untuk keperluan berita di media massa. Bersifat informasi aktual. Contoh reportase, yaitu beritalangsung tentang kejadian bencana alam gempa jogja ataujanjir di Jakarta.
- Iklan : ialah informasi yang disajikan lewat media massa, bulletin atau surat edaran yang bertujuan untuk memberitahukan atau mempromosikan suatu barang atau jasa kepada khalayak untuk kepentingan bisnis, pengumuman, atau pelayanan publik. Iklan terdiri atas iklan keluarga, undangan, pengumuman, penerangan, niaga, lowongan pekerjaan, dan sebagainya.
Ciri-ciri
bahasa iklan:
1)
Kalimatnya singkat; hanya menonjolkan bagian-bagian yang
dipentingkan,
2) Uraian
bersifat informatif dan persuasif,
- Pidato/Khotbah : ialah aktivitas mengungkapkan pikiran, ide, gagasan secara lisan dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kalimat kepada orang banyak dengan tujuan tertentu.
Bahasa
dan isi pidato disesuaikan dengan pendengar (audience)
berdasarkan,
tingkat pemikiran atau pendidikan, usia, dan topik pembicaraan.
Bagian-bagian pidato ialah seperti berikut.
1)
Bagian pembukaan berisi:
a) salam
pembuka
b) ungkapan
sapaan
c) puji
syukur kepada Tuhan
d) penegasan
konteks pertemuan atau acara
2)
Bagian isi berisi uraian pidato sesuai dengan yang telah direncanakan
atau ingin disampaikan.
3)
Penutup pidato, berisi:
a) kesimpulan
isi pidato
b) harapan-harapan
atau himbauan
c) ucapan
terima kasih dan permohonan maaf
d) salam
penutup
- MEMAHAMI PUISI
- Pengertian Puisi
Puisi
adalah salah satu bentuk karya sastra yang berbeda dari bentuk sastra
lain seperti prosa dan drama. Puisi terikat oleh (1) baris dalam tiap
bait, (2), banyak kata atau suku kata dalam setiap baris, (3) rima,
dan (4) Irama. Bahkan pada jenis puisi tertentu ada keterikatan pada
persajakan seperti, a,a,a,a atau a,b,a,b, misalnya pantun dan syair.
Puisi dengan persyaratan seperti di atas merupakan bentuk puisi lama.
- Hakikat Puisi
Puisi
bukan lagi sebuah bentuk karya sastra yang kaku dan penuh
persyaratan. Puisi dalam pengertian modern adalah puisi yang bebas.
Puisi merupakan aktualisasi ekspresi dan ungkapan jiwa penulisnya.
Setidaknya
ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk memahami hakikat puisi.
- Sifat atau Fungsi Seni
- Kepadatan
- Ekspresi Tidak Langsung
- Unsur-unsur dalam puisi
Selain
memiliki unsur-unsur yang tampak seperti diksi (penggunaan ungkapan,
majas, peribahasa), tipografi (pola susunan puisi seperti larik,
bait) dan rima/ritme (persamaan bunyi), puisi juga memiliki unsur
batin. Unsur
batin di dalam puisi meliputi: tema, rasa (feeling), nada ,dan
amanat.
1) Tema
Tema adalah
landasan atau dasar pijakan bagi penyair untuk mengembangkan
puisi.Tema juga merupakan gagasan pokok yang diungkapkan dalam sebuah
puisi.Jika tema mengenai Tuhan, untaian kata-kata, majas, serta idiom
yang digunakan mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan.
Begitu pula bila temanya tentang cinta, pilihan kata (diksi) yang
digunakan oleh penyair berkaitan dengan permasalahan cinta.Contoh:
PADAMU
JUA
Habis kikis
Segala cintaku
hilang terbang
Pulang kembali
aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil
kemerlap
Pelita jendela
di malam gelap
Melambai pulang
perlahan
Sabar, setia
selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rinda rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata
merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam
cakarmu
Bertukar tangkap
dengan lepas
Nanar aku gula
sasar
Sayang berulang
padamu jua
Engkau pelik
menarik ingin
Serupa dara di
balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang
diri
Lalu waktu-bukan
giliranku
Mati hari-bukan
kawanku....
Karya: Amir
Hamzah
2) Perasaan
/Rasa
Rasa adalah
ungkapan atau ekspresi penyair kepada sesuatu yang dituangkan ke
dalam puisinya. Rasa juga merupakan cara bagaimana penyair
mengejawantahkan bentuk perasaan dan pengalaman batinnya kepada
keahlian untuk memilih kata-kata figuratif yang dianggap dapat
mewakili perasan atau ekspresinya terhadap sesuatu.
Keahlian
menuangkan gejolak batin, gairah, kerinduan, atau bentuk ungkapan
lain berupa pilihan kata dan simbol-simbol gaya bahasa
menjadikan puisi makin terasa indah dan punya kedalaman makna. Hal
tersebut dapat dilihat pada contoh lariklarik penggalan
puisi Tuhan karya
Bahrun Rangkuti di bawah ini.
Hanyut
aku Tuhanku
Dalam lautan kasih-Mu
Tuhan bawalah aku
Meninggi ke langit ruhani
3) Nada
dan Suasana
Nada adalah
bentuk sikap atau keinginan penyair terhadap pembaca. Apakah
penyair lewat puisinya ingin memberikan nasihat, menyindir,
mengkritik, atau mengejek pembaca. Suasana adalah akibat yang
ditimbulkan puisi terhadap jiwa pembaca.
Nada
dan suasana memiliki kaitan yang erat.
Nada
puisi yang bersifat kesedihan dapat membuat perasaan pembaca merasa
iba.
Nada
yang mengandung kritikan membuat suasana hati pembaca merasa ingin
memberontak dan sebagainya.
4) Pesan
atau Amanat
Pesan atau amanat adalah
hal yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca lewat
kata-kata dalam puisinya.
Makna
dapat ditelaah setelah pembaca memahami tema, nada, dan suasana puisi
tersebut.
Amanat
juga dapat tersirat dari susunan kata-kata yang dibuat oleh penyair.
Perhatikan
puisi Chairil Anwar yang berjudul Diponegoro, di bawah ini.
DIPONEGORO
Di masa
pembangunan ini
Tuan hidup
kembali
Dan bara kagum
menjadi rapi
Di depan sekali
tuan menanti
Tak gentar.
Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan,
keris di kiri
Berselimpang
semangat yang tak bisa mati
Maju
Ini barisan tak
bergenderang bertalu
Kepercayaan
tanda menyerbu
Sekali berarti
Sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas
menghamba
Binasa di atas
di tinda
Sungguhpun dalam
ajal baru tercapai
Jika hidup harus
merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Amanat
atau pesan yang tersirat dari puisi ini ialah bagaimana
semangat Pangeran Diponegoro dapat hadir pada jiwa-jiwa manusia
modern yang hidup di zaman sekarang.
Meskipun yang dihadapi bukan lagi penjajah melainkan berbagai masalah
yang terjadi pada bangsa yang sedang berkembang seperti masalah
pengangguran, pemerataan, dan keadilan, namun tetap semangat membela
kebenaran khususnya bagi para kaum yang tertindas jangan pernah
punah.
KOMPETENSI
3.2
MENGAPRESIASIKAN
SECARA LISAN TEKS SENI BERBAHASA DAN TEKS ILMIAH SEDERHANA
- Diksi, Makna Idiomatik, Majas, dan Peribahasa
Diksi
ialah pilihan kata.Artinya, seseorang memilih dan menggunakankata
yang tepat untuk menyatakan sesuatu.Pilihan kata merupakan unsureyang
penting bagi pengarang dalam membuat karangan dan pernyairdalam
membuat puisi.
1.
Makna Denotatif dan Konotatif
Makna
denotatif adalah makna sebenarnya atau makna yang memangsesuai dengan
pengertian yang dikandung oleh kata tersebut.
Makna
konotatif ialah bukan makna sebenarnya. Dengan kata lain,makna kias
atau makna tambahan. Contoh kata putih
bisa
bermakna suciatau
tulus
tapi
juga dapat bermakna menyerah
atau
polos.
Konotasi
juga dapat memberikan nilai rasa halus dan kasar.
Contoh:
-
NoNilai Rasa Halus(ameliorasi)Nilai Rasa Kasar(peyorasi)1tunawismagelandangan2mangkat, wafat, meninggalmampus, mati3pramuwismapelayan, pembantu, babu4buang air kecilKencing5Pegawai, karyawanburuh, kuli6hamil, mengandungbunting7melahirkan, bersalinberanak8Menikahkawin9Bodohbego, goblok, tolol10Gemukgendut, gembrot11Pendekkuntet, kate
2.
Ungkapan dan Peribahasa
Ungkapan
adalah satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat) yang tidak dapat
diramalkan berdasarkan unsur-unsur pembentuknya.Contoh ungkapan,
yaitu perang
dingin, kabar angin, kambing hitam, naik daun.
Peribahasa
adalah kelompok kata atau kalimat yang mengisahkan maksud tertentu
berupa perbandingan, pertentangan, sindiran, dan penegasan.Contoh
peribahasa, yaitu habis
manis sepah dibuang, bergantung pada akar lapuk, seperti anak ayam
kehilangan induk, bagai telur di ujung tanduk.
3.
Penggunaan Majas di dalam Karya Sastra
Majas
adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk menimbulkankesan
imajinatif atau menciptakan efek-efek tertentu bagi pembaca atau
pendengarnya. Majas terdiri atas:
a.
Majas perbandingan
Majas
perbandingan terdiri atas tujuh bentuk berikut:
1)
Asosiasi atau Perumpamaan
Majas
asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua halyang pada
hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama.Majas ini ditandai
oleh penggunaan kata bagai,
bagaikan, seumpama,seperti, dan
laksana.
Contoh
:
a)
Semangatnya keras bagaikan
baja.
b)
Mukanya pucat bagai
mayat.
2)
Metafora
Majas
metafora adalah majas perbandingan yang diungkapkan secara singkat
dan padat.
Contoh
:
a)
Dia dianggap anak
emas majikannya.
b)
Perpustakaan adalah gudang
ilmu.
3)
Personifikasi
Personifikasi
adalah majas yang membandingkan benda-benda takbernyawa seolah-olah
mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
a)
Badai mengamuk
dan merobohkan rumah
penduduk.
b)
Ombak berkejar-kejaran
ke
tepi pantai.
4)
Alegori
Alegori
adalah majas perbandingan yang bertautan satu dan yanglainnya dalam
kesatuan yang utuh.Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh
dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh:
Cerita
Kancil dengan Buaya dan Kancil dengan Burung Gagak.
5)
Simbolik
Simbolik
adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda
lain sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
a)
Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian
b)
Melati, lambang kesucian
c)
Teratai, lambang pengabdian
6)
Metonimia
Metonimia
adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel darisebuah benda untuk
menggantikan benda tersebut.
Contoh:
- Di kantongnya selalu terselipgudang garam. (maksudnya rokokgudang garam)
- Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api. (maksudnya kopikapal api)
7)
Sinekdokhe
Sinekdokhe
adalah majas yang menyebutkan bagian untukmenggantikan benda secara
keseluruhan atau sebaliknya.Majassinekdokhe terdiri atas dua bentuk
berikut.
a)
Parsprototo, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:
- Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
- Per kepala mendapat Rp. 300.000.
- Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuksebagian.
Contoh:
(a)
Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03 melawan Rt. 07.
(b)
Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.
b.
Majas Sindiran
Majas
sindiran terdiri atas ironi, sinisme, dan sarkasme.
1)
Ironi
Ironi
adalah
majas yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud menyindir.
Contoh:
a)
Ini baru siswa teladan, setiap hari pulang malam.
b)
Bagus sekali tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.
2)
Sinisme
Sinisme
adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh
:
- Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkanoleh orang terpelajar sepertimu.
- Lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.
3)
sarkasme
Sarkasme
adalah majas sindiran yang paling kasar.Majas inibiasanya diucapkan
oleh orang yang sedang marah.
Contoh:
a)
Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!
b)
Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus!
c.
Majas Penegasan
Majas
penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut.
1)
Pleonasme
Pleonasme
adalah majas yang menggunakan kata-kata secaraberlebihan dengan
maksud menegaskan arti suatu kata.
Contoh:
a)
Semua siswa yang di
atas agar
segera turun
ke bawah.
b)
Mereka mendongak
ke atas menyaksikan
pertunjukan pesawat tempur.
2)
Repetisi
Repetisi
adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.
Contoh:
- Dialah yang kutunggu, dialah yang kunanti, dialah yang kuharap.
- Marilah kita sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idolakita, marilah kita sambut putra bangsa.
3)
Paralelisme
Paralelisme
adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalampuisi.
Contoh:
Cinta
adalah pengertian
Cinta
adalah kesetiaan
Cinta
adalah rela
berkorban
4)
Tautologi
Tautologi
adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kalisebuah kata
dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan.Kadang pengulangan itu
menggunakan kata bersinonim.
Contoh:
- Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukarpikiran saja.
- Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, danbersaudara.
5)
Klimaks
Klimaks
adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turutdan
makin lama makin meningkat.
Contoh:
- Semua orang dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antriminyak.
- Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.
6)
Antiklimaks
Antiklimaks
adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut
yang makin lama menurun.
- Kepala sekolah, guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuranitu.
- Di kotadan desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan HUT ke -67 RI.
7)
Retorik
Retorik
adalah majas yang berupa kalimat tanya namun takmemerlukan jawaban.
Tujuannya memberikan penegasan, sindiran,atau menggugah.
Contoh:
- Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formalsaja?
d.
Majas Pertentangan
Majas
pertentangan terdiri atas empat bentuk berikut.
1)
Antitesis
Antitesis
adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yangberlawanan artinya.
Contoh:
a)
Tua
muda, besar kecil, ikut
meramaikan festival itu.
b)
Miskin
kaya, cantik buruk
sama saja di mata Tuhan.
2)
Paradoks
Paradoks
adalah majas yang mengandung pertentangan antarapernyataan dan fakta
yang ada.
Contoh;
b)
Hatiku merintih
di
tengah hingar
bingar
pesta yang sedangberlangsung ini.
3)
Hiperbola
Majas
hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari
kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta
perhatian.
Contoh:
a)
Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b)
Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.
4)
Litotes
Litotes
adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan carayang berlawanan dari
kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk
merendahkan diri.
Contoh:
a)
Makanlah seadanya hanya dengan nasi dan air putih saja.
b)
Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti sayaini?
B.
Menangkap Pesan yang Tersirat dalam Karya Sastra
Salah
satu unsur intrinsik sebuah prosa adalah amanat.Amanat adalah pesan
yang ingin disampaikan oleh pengarang lewat cerita.Pesan ada yang
diungkapkan secara tersurat dan juga tersirat.Pesan tersirat biasanya
ditafsirkan sendiri oleh pembacanya, atau dapat diketahui setelah
membacaseluruh cerita.
Berikut
ini penggalan novel yang kental dengan pesan atau amanat,baik secara
eksplisit maupun implisit.
Bersama
nenek, tidak ada bedanya bagiku seperti bersama ibu.Diajarinya aku
mencintai tanah dan segala yang tumbuh di atasnya.Diajarinya aku
berbicara dengan suara rendah namun sejelas mungkin.Tak perlu
bernada lebih tinggi dari kawan bicara.Seperti ibuku,
nenekberpendapat bahwa tumbuh-tumbuhan juga berjiwa.Berkali-kali
kudapatinenek berbicara kepada pohon jeruknya, kepada
kembang-kembangmelatinya, kepada kambojanya.Ketika aku baru tiba,
diperkenalkannyaaku pada cangkokan rambutan yang baru ditanam,
kiriman dari seorangsaudara yang mempunyai kebun luas di daerah
Betawi.Sikap yang ramahpenuh terima kasih selalu ditunjukkannya
kepada pembantu dan petaniyang bekerja di rumah maupun di sawah.
Kakek dan nenek meskipuntidak bersamaan keduanya sepakat mengajariku
untuk mengerti bahwakita tidak bisa hidup bersendiri, karena
seseorang memerlukan orang lainuntuk merasakan gunanya kehadiran
masing-masing. Kelakuan yangsama harus pula ditunjukkankepada semua
makhluk termasuk binatangdan tumbuh-tumbuhan.
(Dikutip
dari novel: Sebuah
Lorong di Kotaku, oleh
N.H. Dini)
Penggalan
novel tersebut memuat amanat tentang sikap
yang baik kepada sesama manusia.
Sikap yang baik dan perlakuan yang samaharus pula ditunjukkan kepada
semua makhluk termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Untuk
puisi, pengungkapan makna dan amanat dapat melaluipengamatan terhadap
pilihan kata yang digunakan dalam puisi
C.
Memberi Tanggapan Terhadap
Prosa
Seseorang
dapat memberi tanggapan terhadap sebuah karya sastra baik prosa
maupun puisi dalam bentuk resensi.Resensi adalah tulisan berisi
ulasan, penilaian, pertimbangan, atau pembicaraan suatu karya sastra.
Tujuan
penulisan resensi adalah memberikan informasi kepada pembaca mengenai
keunggulan dan kelemahan fiksi atau nonfiksi tersebut.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam menyusun resensi novel ataucerpen
adalah sebagai berikut.
1.
Tema
a.
Apakah tema cerita itu?
b.
Apakah tema itu dapat diterima sebagai kebenaran umum?
2.
Alur
- Pola apa yang dipakai pengarang untuk membangun ceritanya?
- Insiden atau konflik apa yang dipilih untuk mengembangkan temacerita itu?
- Apakah terdapat hubungan yang wajar dan baik antara peristiwadi dalam cerita dengan tema cerita?
- Mengapa suatu peristiwa lebih menonjol daripada peristiwalainnya?
- Apakah peristiwa demi peristiwa saling bersambungan danberkaitan?
- Apakah pengembangan peristiwa disusun secara rapih?
- Bagaimana hubungan peristiwa dengan perjalanan hidup tokohutamanya?
3.
Latar
- Kapan dan di manakah peristiwa atau cerita itu terjadi?
- Apakah latar berperan dalam pengembangan cerita? Menguatkanatau bahkan melemahkan?
4.
Tokoh
- Bagaimana karakter tokoh cerita ditampilkan oleh pengarang?Apakah secara langsung atau melalui dialog tokoh lainnya?
- Apakah karakter tokoh dalam cerita memang wajar atau terkesandibuat-buat?
- Bagaimana hubungan antar-tokohnya?
- Apakah peranan tokoh dapat menghidupkan alur cerita?
- Bagaimana peranan tokoh dalam menghidupkan tema?
5.
Sudut Pandang
- Dari sudut siapakah pengarang memaparkan ceritanya?
- Apakah sudut pandang yang dipilih pengarang konsisten dalamseluruh ceritanya?
6.
Amanat
- Bagaimana pengarang memberikan pesan atau amanat dalamceritanya?
- Apakah amanat yang disampaikan pengarang dalam ceritanya?
- Bagaimana pengarang menyampaikan amanat ceritanya terkesanmenggurui atau tidak?
7.
Bahasa
- Gaya bahasa apakah yang dipakai pengarang dalam bercerita?
- Apakah bahasa yang dipergunakan berkesan dan sugestif?
- Apakah gaya bahasa yang digunakan wajar, tepat, dan hidup?
Dalam
meresensi prosa, penulis resensi dapat pula mengupassedikit mengenai
unsur ekstrinsik prosa yang diresensi.
Antara lain:
(1)
latar belakang pengarang
(2)
tujuan membuat karya
(3)
kondisi sosial budaya dan lingkungan yang memengaruhi karyaitu
tercipta
(4)
kultur budaya pengarang
(5)
pengalaman pengarang
Di
samping mengamati unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, kitajuga
harus melihat keunggulan dan kelemahan karya sastra
tersebut.Keunggulan bukan hanya dari sisi cerita saja tapi juga dari
segi fisik buku,misalnya gambar sampul, ilustrasi, pembagian
subjudul, atau kualitaskertas.Demikian juga pada aspek kelemahan atau
kekurangannya.
KISAH
KEHIDUPAN MANUSIA
Judul
:
Belenggu
Pengarang
:
Armin
Pane
Penerbit
:Dian
Rakyat
Tahun
:
1983, Cetakan XVII 1995
Novel
karya Armijn Pane dengan tebal 150 halaman ini mempunyaisejarah yang
menggemparkan.Cerita ini pernah ditolak oleh Balai Pustaka,ramai
dipuji dan dicela, tetapi akhirnya urung menjadi salah satu
novelklasik modern Indonesia yang harus dibaca oleh orang terpelajar
diIndonesia.
Armijn
Pane ialah seorang romantikus yang suka mengembara dalamjiwanya.Ia
identik dengan zaman baru. Hal ini memengaruhi isi cerita
inisehingga dianggap sebagai sesuatu yang baru.
Alur
yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, namundominan
menggunakan alur maju.Walaupun demikian, dapat membawapara
pembacanya menelusuri cerita demi cerita.
Cara
pengarang menggambarkan tokoh-tokoh dalam cerita iniberlainan dengan
cara yang biasa dipakai pengarang lain. Tokoh Sumartinidigambarkan
sebagai seorang modern yang mandiri dan memiliki ego
yangtinggi.Rohayah digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut,
penyayang,penuh perhatian, tetapi memiliki masa lalu yangkelam.
Gaya
bahasa yang dipergunakan dianggap sebagai gaya yang barudan berbeda.
Pengarang novel ini banyak menggunakan bahasa Melayudan bahasa
Belanda yang membuat para pembacanya tidak mengerti danharus menerka
sendiri maksudnya.Di dalam karyanya, pengarang pandaimenyelipkan
ungkapan-ungkapan yang disusun secara menarik sehinggamenimbulkan
suasana romantik.
Para
tokoh yang dilukiskan dalam novel ini hampir menyerupaikarikatur
karena terlalu berlebihan.Dalam melukisnya, pengarangmelukiskan
pikiran dan semangatnya.Gambaran Armijn terhadap tokohnyatidak tegas
dan konsekuen. Namun demikian, buku ini membawa kemajuanbagi sastra
Indonesia karena cara penyampaiannya yang unik. Tidak rugikita
mencoba membacanya.
Novel
ini banyak mengandung amanat yang sangat bermanfaat bagipembacanya,
pengarang mengajarkan kita untuk berbagi dan berkorbanuntuk orang
lain. Hal yang menarik dari cerita ini permainan perasaanpengarang
yang memberikan suasana romantis.Pengarang menyelipkanpertanyaan
yang tersirat dari awal hingga akhir cerita.
Namun
dengan segala keindahan dan kelebihannya, buku ini membuatkesulitan
bagi pembacanya untuk menangkap maksud pengarang karenabanyaknya
menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Belanda.Pemakaianungkapan dan
kiasan dalam kalimat membuat cerita ini terasa berat.Meskidemikian
cerita ini tetap memikat dan penuh dengan muatan pesan yangdapat
direnungkan dan diterjemahkan lebih dalam.
D.
Memberi Tanggapan terhadap Puisi
Contoh
ulasan tentang seorang penyair puisi dan karyanya:
BERTINO
VULKAN
PENYAIR
DARI TANJUNG MORAWA
Sebuah
sajak bernada sedih ditulis Bertino Vulkan pada tahun 1977.Puisi
sedih itu menggambarkan suasana musim panas pada saat
magribtiba.Keadaan sunyi dan seolah-olah mati.Angin pun tak ada
karena itumungkin dedaunan pun tak bergerak, ‘dedaunan tak satu
menari’. Pada baitberikutnya, penyair menggambarkan suasana yang
lengang. Pemandanganluas tapi kosong, hanya ada ilalang
seluas-luasnya mata memandang. Kata
penyair:
-
Magrib musim panassunyi dan matidaunan tak satu menarisejauh mata memandangkosong meratapadang ilalang lengangsungai Blumei tak beriaksumur matitanah kering tak berseri
di kaki bukitdi bawah pohon tuadaunan kering meratamentari turun ke beting senjadengung kumbang pulang ke sarangdan jengkrik yang mengerikpilu mengisahkanmusim panas yang panjang
Puisi
yang dimulai dengan kalimat: Maghrib
musim panas ini
diberi judul Maghrib
Musim Panas Apa
yang dapat ditangkap pembaca pada bait pertama adalah suasana sedih
pada saat maghrib tiba. Suasana
sunyi danbahkan mati.Untuk memperkuat sunyi dan mati itu, ditambah
denganbaris daunan
tak satu menari.
Rasa
sedih dan sepi tak hanya digambarkan pada dedaunan yang takbergerak,
tapi juga pada sungai yang biasanya mengalir riang.Namun dimata hati
Bertino, sungai
Blumei tak riang beriak / sumur mati / tanah kering takberseri.
Penyair
Bertino Vulkan memiliki nama asli Suparno, kemudianmembuat nama
samaran Bertino Vulkan. Penyair Bertino lahir di TanjungMorawa, Deli
Serdang, 8 Juni 1933.Pendidikan yang ditempuhnya hanyahingga SMP.
Kemudian, ia berkecimpung dalam dunia kewartawanan.Ketika terjun ke
dunia pers itulah, Bertino mengembangkan bakatnyadalam penulisan
kreatif.Ia menulis, puisi, cerita pendek, dan juga naskahdrama.
Karya-karyanya berupa puisi dan prosa itu pernah dimuat dimajalah
Mimbar
Indonesia, Konfrontasi, Indonesia, Budaya, dan
Horison.Karyakaryanyajuga
sudah tentu dimuat di ruang budaya koran-koran yang terbitdi Medan,
Sumatra Utara.
Dalam
puisi Maghrib
Musim Panas,
selain suasana sedih, sebenarnyajuga kita dapat menangkap rasa
religius yang kental pada penyair membuatsuasana sedih dapat
tergambar dalam puisi itu.
Puisi
lainnya yang bersuasana religius yang lahir dari tangan
Bertinoberjudul Dzikir.Berikut
ini kutipannya:
Hening
malam hening diriku
Merasuklah
engkau
Menyatu
dalam dzikir
Dalam
nada-nada terakhir
Engkau
Alif keesaan
Hilang
segalanya
Diriku
tiada
Hening
malam hening diriku
Menyatu
dalam cipta
Rasa
Dan
ruh yang bahagia
Dalam
nur
Apakah
yang didambakan oleh seorang manusia yang taat menyembahAllah ?
Mungkin salah satu adalah: menyatu dalam dzikir. Hilang
segalanya,diriku tiada.Yang ada
hanya
Engkau.Adalah rasa bahagia yang tinggi telahdicapai bila ruh bahagia
berada dalam nur.
Sebagai
penyair, Bertino telah memperlihatkan diri dalam sosok
puisi.Puisi-puisinya selain dimuat di koran dan majalah, juga dapat
ditemukandalam sejumlah antologi. Misalnya: Terminal
Puisi 77 dan
Seribu
Sajak.
Sebuah
sajaknya yang bercerita tentang ladang, dikutip petikannya dibawah
ini.
-
LADANG HIJAUDari bukit ke bukit turunhijau menghamparderai deru daun bambusebelah timur batas ladangkukacang kuning jua berbulutanah hitam yang longgar subur
dan gatal daun jagunggoresan-goresan pedih merangkumharapan hasil tahun ke tahunmengambang merangsanghari depan dalam ciptaan
Akhir-akhir
ini, penyair dari Tanjung Morawa ini banyak menaruhperhatian pada
cerita anak-anak.Ia telah menulis sejumlah cerita anak-anak,namun
belum sempat diterbitkan. Konon, sang penyair sedang
menunggupenerbit yang bersedia menerbitkan karya cerita
anak-anaknya.
Contoh
menginterpretasi sebuah puisi :
|
STASI
KELIMA
Di
sini anak-anak bangsa diuji
Mau
jadi pedagang, tukang pukul atau pegawai asuransi
Di
sini anak-anak rakyat jelata ditempa
Untuk
menantang nasib, menggarap hidupnya Jakarta
Bersama
ribuan sopir, pengecer tekstil
Pedagang
buah, pencatut karcis dan makelar mobil
Kuberi
Chris perasaan sukses
Seperti
seorang direktur pemasaran
Insinyur
pertanian dan opsir-opsir di lapangan
Kubuat
ia tersenyum di pasar, di pentas lumba-lumba
|
Di
kerumunan Lenong dan Topeng Betawi
Bersama
para badut yang bersuara lembek
Yang
mengemis perhatian ekstra
Sebagai
bekas jongos dan babu
Lalu
bicara tentang masa depan bangsa
Memadukan
harapan dan mimpi sederhana
Dengan
jiwa merantau Minangkabau
Keberanian
Bugis, kelugasan Batak
Kearifan
Jawa. Keluwesan Bali
Ketegaran
Aceh dan keanggunan Menado
Maka
jadilah Chris, jadilah Jakarta
Jadilah
Chris Jakarta
|
Sajak
Christoper Eka Budianta itu melukiskan tokoh aku (Tuhan)
YangMahamurah (Kuberi Chris perasaan sukses) dan Mahakuasa (Kubuat
iatersenyum....) yang berkisah tentang perjuangan seorang urban
(tokohChris) menghadapi kehidupan Jakarta yang amat keras. Bagi
urban, rakyatjelata yang papa, seperti Chris, supir, pedagang buah,
pencatut, Jakarta yangkeras lebih banyak mendatangkan tekanan bathin
daripada kesenangan.Untunglah, Tuhan selalu dekat dan kasih dengan
orang papa.Tuhanmenghibur orang papa itu dengan memberi harapan dan
mimpi.Artinya,Tuhan hanya memberi perasaan sukses, bukan sukses itu
sendiri.
Mimpi
si papa itu memang luar biasa.Ia bermimpi bagai seorangeksekutif
(direktur pemasaran) yang sukses dan manajer operasional(insinyur
pertanian atau opsir) yang jagoan. Lebih hebat lagi, si papa
itubermimpi mampu mengatur dan menentukan masa depan bangsa,
mempumemadukan puncak-puncak nilai atau watak kelompok etnik
sepertikearifan Jawa dan keberanian Bugis.
Akhir
kisah, jadilah Chris , si papa itu, Chris Jakarta, Chris pemimpi,
sipapa pemimpi.
Sajak
Budianta di atas adalah sebuah ironi. Sajak ini menyampaikanpesan
dengan cara kebalikan, dengan sindiran kelabu. Dalam realitas,kaum
papa ini memang pemimpi berat. Coba saja kita amati, orang yangrajin
ber-togel-ria adalah orang-orang dari lapisan bawah. Orang-orang
ini
umumnya memiliki banyak waktu luang, tetapi mereka tidak
cukupmemiliki kreativitas dan keterampilan untuk memanfaatkan waktu
luangitu. Tentu cara yang paling gampang untuk memanfaatkan waktu
luang ituadalah bermimpi menjadi jutawan lewat togel (pasang togel).
Pesan
yang ditawarkan sajak itu jelas, yaitu janganlah menjadi
pemimpi.Hadapilah kehidupan Kota Jakarta yang keras ini dengan sikap
yang lebihpragmatis, seperti sikap pedagang.Syukur-syukur kalau
sikap pragmatisini masih dapat dihiasi dengan bunga idealisme.
Pesan
inilah salah satu jawaban atas teka-teki sajak Stasi Kelima karyaEka
Budianta itu. Stasi Kelima, yang artinya penghentian kelima,
adalahajakan kepada kita untuk berhenti sejenak dalam perjalanan
hidup untukmerenung, menilai, dan mencari makna kehidupan secara
mendalam.Renungan atau refleksi ini dapat membebaskan kita dari
kehidupan yangrutin dan dangkal.
Tanggapan
Puisi di atas;
Sajak
ini memang membuat orang yang membacanya penasaranterhadap maksud
dari ungkapan-ungkapan penyair.Namun, dari segidiksi, bahasa penyair
terlalu lugas dan penggunaan kalimatnya cukuplengkap sehingga puisi
ini terkesan sebuah cerita atau prosa jika sajatipografi atau
susunannya berbentuk paragraf.Jika agak alegoris sedikitmungkin
lebih indah untuk dibacakan dan didengarkan. Namun sekalilagi dalam
membuat puisi semua pilihan berada pada sang penyair. Takada aturan
yang mengikat pada puisi modern. Jadi, apa pun bentuk dancara
pengungkapannya, semua sah-sah saja asal tetap mengandung
banyakmakna yang dapat diinterpretasikan oleh siapa saja.
KOMPETENSI
3.3
MENULIS
PROPOSAL UNTUK KEGIATAN ILMIAH SEDERHANA
A.
Pengertian Proposal
Proposal
adalah suatu usulan kegiatan atau rencana yang diterangkan dalam
bentuk rancangan kerja secara terperinci dan sistematis yang akan
dilaksanakan atau dikerjakan.
Proposal
dibuat untuk mendapatkan dukungan atau persetujuan pihak lain. Tapi
adakalanya proposal juga dibuat untuk memohon bantuan dana.
Berdasarkan
bentuknya, proposal dapat digolongkan menjadi dua,yaitu:
1.
Proposal Formal
Proposal
Formal disusun secara lengkap meliputi tiga bagian utama, yaitu:
- Bagian Pelengkap Pendahuluan
Bagian
ini terdiri atas:
(1)
sampul dan halaman judul
(2)
prakata/kata pengantar
(3)
ikhtisar (abstrak)
(4)
daftar
isi
(5)
penegasan permohonan
- Isi Proposal
Bagian
ini terdiri atas:
(1)
latar belakang masalah
(2)
ruang lingkup masalah
(3)
pembatasan masalah
(4)
asumsi dasar/kerangka teori
(5)
metodologi
(6)
fasilitas
(7)
personalia (kepanitiaan)
(8)
keuntungan dan kerugian
(9)
waktu dan biaya
- Bagian Penutup
Bagian
ini terdiri atas:
(1)
daftar
pustaka
(2)
lampiran-lampiran
(3)
daftar
gambar/tabel
2.
Proposal Semiformal
Proposal
semiformal terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
- Proposal Kegiatan Umum
Proposal
kegiatan umum ialah proposal yang berisi usulan atau rencana kegiatan
yang bersifat umum, misalnya, kegiatan bazar, bakti sosial,pesantren
kilat, atau LDKS.
Sistematika
proposal kegiatan umum berbentuk sederhana, yaitumeliputi :
(1)
nama kegiatan (judul)
(2)
latar belakang atau dasar pemikiran
(3)
maksud dan tujuan
(4)
sasaran/ruang lingkup
(5)
waktu dan tempat kegiatan
(6)
penyelenggara/panitia kegiatan
(7)
program/jadwal kegiatan
(8)
anggaran biaya
(9)
penutup
Contoh
proposal kegiatan umum:
PROPOSAL
KEGIATAN STUDI TOUR/WISATA
SMP
NEGERI 22 JAKARTA, TAHUN 2006
I.
DASAR PEMIKIRAN
Proses
belajar-mengajar yang dicanangkan oleh pemerintah dantertuang dalam
kurikulum tentunya tidak diartikan secara tekstualbelaka, yaitu
hanya dalam bentuk penyampaian dari narasumber dalamhal ini guru
sebagai pengajar kepada siswa sebagai subjek yang diajar,secara
kontinyu atau berkala melalui metode lisan maupun tulisandengan
menggunakan berbagai sumber belajar. Namun, proses belajarjuga
meliputi proses pengamatan langsung kepada objek-objek yangberkaitan
dengan bahan pangajaran yang dapat dilihat atau ditemuilangsung oleh
siswa. Sebab, pada dasarnya belajar adalah mempelajarihal-hal yang
bersumber dari lingkungan sekitar yang diformulasikanmenjadi teori
dan bidang-bidang ilmu. Sementara tujuan pembelajaransendiri adalah
selain memberi pemahaman dan keterampilan jugamenanamkan
pengalaman-pengalaman yang berarti dan dapatdijadikan dasar
pemikiran serta perilaku baik di masa sekarangmaupun yang akan
datang bagi siswa didiknya.
Untuk
mencapai pengalaman belajar yang mengesankan, tentunyasiswa juga
diajak untuk melihat dan berinteraksi langsung denganobjek-objek
yang menjadi salah satu bagian bahan ajar yang merekapelajari di
sekolah, tidak melulu hanya melihat di buku pelajaran.Dalamhal ini,
sesekali siswa diajak berpergian untuk meneliti dan mengamatisesuatu
sesuai dengan pelajaran yang dipelajari sambil berwisata.
Salah
satu program sekolah khususnya SMP Negeri 22 yangmerupakan kegiatan
rutin OSIS ialah Kegiatan Studi Tour atau StudiWisata.Kegiatan yang
membawa siswa-siswi khususnya kelas tujuhatau kelas delapan ke
sebuah objek wisata yang berkaitan dengan matapelajaran
tertentu.Untuk tahun pelajaran 2006/ 2007, SMP Negeri22 hanya
mengadakan studi tour untuk kelas delapan dan bersifatperwakilannya
saja.
II.
TUJUAN KEGIATAN
- Memperkenalkan siswa kepada objek wisata tertentu yang berkaitan dengan bidang ilmu tertentu
- Mengajak siswa mengamati dan meneliti objek wisata yang dimaksud, yaitu Sumber Air Panas Ciater
- Melakukan proses belajar-mengajar melalui metode langsung berupa pengamatan langsung terhadap objek atau sumber belajar.
- Menciptakan kondisi dan nuansa belajar yang lain dari yang biasanya berlangsung di sekolah.
- Mengajarkan siswa untuk berinteraksi langsung pada lingkungansebagai sumber belajar.
- Membawa siswa dan guru untuk berekreasi sambil mencari ilmu
III.
PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan
“Studi Tour/Studi Wisata” dilaksanakan pada;
Hari,
tanggal :
Kamis, 23 November 2012
Tujuan
:
Ciater, Subang, Bandung
Waktu
berangkat : Pukul. 07.00 dari sekolah
IV.
PESERTA KEGIATAN
Peserta
kegiatan terdiri atas siswa-siswi perwakilan kelas VIII
masing-masing berjumlah lima orang ditambah oleh perwakilan dari
Eks-kul OSIS SMP Negeri 22 sebanyak masing masing satu orang.Selain
itu, juga pengurus panitia terdiri atas pejabat sekolah PembinaOSIS
atau Eks-kul yang ditunjuk serta para wali kelas VIII.
V.
SUSUNAN KEPANITIAAN
(
TERLAMPIR )
VI.
ANGGARAN BIAYA
(
TERLAMPIR )
VII.
JADWAL KEGIATAN
(
TERLAMPIR )
VIII.
PENUTUP
Demikianlah
proposal kegiatan Studi Tour atau Studi Wisata siswasiswikelas VIII
SMP Negeri 22 Jakarta.Semoga pelaksanaan kegiatanyang dimaksud dapat
berjalan dengan baik dan lancar dan mencapaitujuan yang
diharapkan.Untuk itu, kami mengucapkan terima kasihkepada
pihak-pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini.
Serang,
10
November 2012
PANITIA
KEGIATAN STUDI TOUR
SMP
NEGERI 22
TAHUN
PELAJARAN 2012/2013
KETUA,
SEKRETARIS,
Ttd.
Ttd.
NELSON
SIAHAAN, S.Pd. DRS.TRI
WAHYU P.
NIP.
NIP.
MENGETAHUI,
KEPALA
SMP NEGERI 22,
Ttd.
DRS.
D.
SUBAGJO, M.Pd.
b.
Proposal Kegiatan Ilmiah Sederhana
Proposal
kegiatan ilmiah sederhana atau proposal penelitian ilmiah sederhana
adalah usulan kegiatan yang berisi rancangan kerja atau
langkah-langkah untuk melakukan kegiatan ilmiah secara sederhana.
Misalnya, proposal pengamatan, proposal mengadakan diskusi ilmiah,
proposal penelitian sederhana, dan proposal studi kepustakaan.
Sistematika
proposal kegiatan ilmiah sederhana juga berbentuksederhana meliputi
unsur-unsur berikut.
- Nama kegiatan ilmiah (judul)
Judul
merupakan cerminan dari keseluruhan rencana penelitiannya,karenanya
merupakan unsur yang paling penting dan merupakan“wajah” pengenal
rencana penelitiannya tersebut.
- Latar belakang/Dasar penelitian
Latar
belakang penelitian memuat alasan-alasan mengapa topic seperti yang
tercantum di dalam judul penelitian itu diteliti.
- Ruang lingkup masalah
Hasil
paparan permasalahan dalam latar belakang untuk lebihjelas diuraikan
dalam bentuk ruang lingkup/identifikasi masalah.Identifikasi ini
memperlihatkan berbagai kemungkinan masalahyang muncul dan yang dapat
diteliti.
Berikut
ini adalah contoh identifikasi masalah penelitian ilmiah
yangberkaitan dengan pengamatan terhadap profesi pemulung di
DKI.Ruang lingkup masalahnya, misalnya sebagai berikut:
- Permasalahan sosial apa sajakah yang ada di DKI Jakarta?
- Permasalahan sosial apa sajakah yang menyangkut dengan ketenagakerjaan di DKI Jakarta?
- Bagaimanakah tingkat kepedulian masyarakat DKI Jakartaterhadap permasalahan sosial yang ada di wilayahnya?
- Solusi apa sajakah yang dapat dilakukan untuk mengatasipermasalahan ketenagakerjaan di DKI Jakarta?
- Latar belakang apakah yang membuat para pemulung memilihprofesi sebagai pemulung?
- Apakah keluarga pemulung ikut serta pula menjadi pemulung?
- Pembatasan masalah
Berdasarkan
identifikasi ditetapkan batasan permasalahan.Pembatasan masalah
penelitian berupa penetapan lingkuppermasalahan dari berbagai masalah
yang teridentifikasi sesuaidengan tujuan penelitian.
- Teknik/metode yang digunakan
Dalam
hal ini dijelaskan populasi dan sampel penelitian (jikapenelitian
sampling)
dan teknik pengambilan sampelnya.Jikabukan penelitian sampling atau
sensus (populasi), dijelaskansiapa informan
yang
menjadi subjek penelitian. Selanjutnya metode (teknik) pengumpulan
data juga dijelaskan, dan demikian pula metode analisis data yang
akan dipergunakan.
- Tujuan dan manfaat kegiatan
Di
sini, dijelaskan apa saja tujuan kegiatan atau penelitian.
Laludijelaskan pula jika telah diteliti hasilnya akan bermanfaat
untukapa dan untuk siapa.
- Program kegiatan
Pada
bagian ini, penyusun proposal akan menyajikan jadwalatau pembagian
waktu pelaksanaan kerja. Jadwal atau programpelaksanaan kegiatan ini
untuk memberikan gambaran kepadapenerima proposal tentang kegiatan
sejak dari awal hingga akhir.
- Lokasi dan waktu kegiatan
Dalam
proposal juga dijelaskan kapan dan di mana programkegiatan secara
keseluruhan dilakukan atau dilaksanakan.
- Biaya kegiatan
Pada
bagian ini dipaparkan perincian anggaran dari pemasukanhingga
biaya-biaya yang akan dikeluarkan dalam melaksanakankegiatan. Dalam
penyusunan anggaran diusahakan harus efisiendan logis.
- Penutup
Bagian
ini berisi penegasan permohonan persetujuan pihak yangberwenang
menyetujui, seperti kepala sekolah, harapan-harapan,dan ucapan terima
kasih.Proposal diakhiri dengan penulisantanggal pengajuan proposal
dan tanda tangan penanggung jawabproposal.
Contoh
Proposal Kegiatan Ilmiah Sederhana
Proposal
Kegiatan
Dialog
Interaktif Dampak Pemakaian Narkoba pada Remaja
Diselenggarakan
oleh Gabungan Pengurus OSIS SMK se-Banten
Tahun
2014
A.
Latar Belakang Masalah
Narkoba atau narkotika dan obat-obatan
terlarang sekarang menjadi permasalahan nasional dan ramai
dibicarakan cara pemecahannya. Narkoba telah menjadi bencana
nasional yang dampaknya lebih hebat dibandingkan dengan bencana
tanah longsor atau banjir. Penyalahgunaan narkoba akan berdampak
sangat luas terhadap kelangsungan hidup bangsa.
Penggunaan narkoba sesungguhnya diperlukan
alam dunia kedokteran. Akan tetapi, saat ini narkoba telah
disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk
kepuasaan sesaat. Dampak pemakaian narkoba banyak sekali. Dampak
bagi si pemakai di antaranya adalah denyut jantung bertambah keras,
tubuh menjadi lemah, dan akhirnya jiwa si pemakai tidak tertolong.
Ciri-ciri pemakai yang mulai bergantung pada narkotik adalah suka
bicara, cemas dan gelisah, tidak dapat duduk tenang, denyut nadi
cepat, kulit panas dan bibir hitam, tidak dapat tidur, bernapas
dengan cepat serta tangan dan jemari gemetar.
Hasil penelitian Fakultas Kedokteran di
salah satu universitas di Jakarta menyebutkan bahwa sekitar 70%
pelaku penyalahgunaan narkoba adalah remaja. Remaja adalah
sekelompok manusia yang tidak mau dianggap anak-anak, tetapi belum
mencapai usia dewasa. Tidak dapat dibayangkan dalam usia yang sangat
muda mereka sudah terkena racun narkotika. Apabila hal ini
berlangsung terus-menerus, bagaimana masa depan mereka dan bagaimana
masa depan bangsa ini?
Berdasarkan pemikiran ini, kami dari
Gabungan Pengurus OSIS SMK se-Kotamadya Surabaya bermaksud
mengadakan acara dialog interaktif mengenai penyalahgunaan narkoba
di kalangan remaja.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di
atas dapat diindentifikasi topiktopik permasalahan yang berhubungan
dengan penyalahgunaan narkoba yaitu seperti berikut.
1. Apa penyebab terjadinya penyalahgunaan
narkoba pada remaja?
2. Apa jenis-jenis narkoba yang sering
dipakai oleh remaja?
3. Apa ancaman hukum terhadap pengedar dan
pemakai narkoba?
4. Bagaimana dampak Pemakaian Narkoba pada
Remaja?
5. Apa pengaruh narkoba bagi kesinambungan
regenerasi bangsa?
6. Bagaimana memberantas atau memutus
jalur pengedaran narkoba?
C.
Pembatasan Permasalahan
Dari beberapa indentifikasi topik
permasalahan di atas, agar pembahasan lebih terfokus dan berbobot,
topik atau permasalah dibatasi hanya pada “Dampak Pemakaian
Narkoba pada Remaja.”
D.
Teknik Pelaksanaan
Teknik pelaksanaan dialog interaktif ini
adalah sebagai berikut.
1. Mengundang para narasumber, yaitu tokoh
agama, paramedis, dan mantan pemakai untuk memberikan pandangannya
masingmasing selama lima belas menit.
2. Selanjutnya dilakukan dialog interaktif
antara peserta dan narasumber yang dibagi atas beberapa termin.
E.
Tujuan dan Manfaat Kegiatan
Dialog interaktif ini bertujuan untuk
memberikan informasi pada para remaja, khususnya yang masih
berstatus pelajar agar mengetahui dampak-dampak dari memakai dan
menyalahgunakan narkoba dilihat dari berbagai sudut pandang, agama,
dan kesehatan. Adapun manfaatnya adalah agar para remaja menghindar
dan menjauhkan diri dari narkoba atau narkotika serta obat-obatan
terlarang.
F.
Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada;
1. Hari/tanggal : 09 Februari 2003
2. Waktu : 08.00 s.d. selesai.
3. Tempat : Aula SMK Budi Utomo Surabaya
G.
Program Kegiatan
Jadwal pelaksanaan dialog interaktif
seperti terangkum dalam tabel berikut ini.
|
NO
|
KEGIATAN
|
PELAKSANAAN
|
TEMPAT
|
|||
|
HARI
|
TGL/BLN/THN
|
WAKTU
|
||||
|
1
|
Mencari Narasumber
|
Minggu
|
26/01/2014
|
08.00 -
Selesai
|
Serang
|
|
|
2
|
Penyebaran Undangan
|
Senin
-Selasa
|
3-4/2/2014
|
08.00-Selesai
|
Para
pejabat
daerah,
Kanwil,
Depdiknas,
para
kepsek
SMK,
Guru
BP
dan siswa
se-
Banten
|
|
|
3
|
Pelaksanaan
Dialog Interaktif
|
Minggu
|
9/2/2014
|
08.00-Selesai
|
Aula
SMK
Mulia
Hati Insani Warunggunung
|
|
H.
Anggaran Biaya kegiatan
Anggaran biaya untuk melaksanakan kegiatan
ini adalah sebagai berikut.
-
NOJENIS ANGGARANRINCIAN JUMLAH1.TransportasiRp 75.0002.Uang saku/intensif narasumberRp 100.0003.Makanan kecil dan minuman
- Tamu undangan 100 x Rp 3.000
Rp 300.000
- Panitia 25 x Rp 2.500
Rp 62.500
- Minuman gelas 8 kardus x Rp 10.000
Rp 80.0004.PeralatanRp 100.0005.Lain-lain:
Antar jemput narasumber:
a. tokoh agamaRp 50.000
b. paramedisRp 72.500
c. tokoh pemudaRp 45.000
Perlengkapan:
a. sewa kursi 750 x Rp 3.00Rp 225.000
b. Sewa pengeras suaraRp 100.000
c. DokumentasiRp 200.000
Jumlah AnggaranRp 1.410.500, 00
J.
Penutup
Demikian proposal ini kami ajukan. Besar
harapan kami proposal ini dapat dikabulkan.
Banten,
3 Januari 2014
|
Sekretaris
Fani
Afnan Jannati
|
Ketua
Dewanto
Nugraha
|
|
Mengetahui,
Kepala
SMK Mulia Hati Insani
Drs.
Heri Mulyanto
|
|
C.
Bahasa Proposal
Proposal
merupakan jenis tulisan yang formal dan ilmiah. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menulis proposal adalah sebagai berikut.
- Hendaknya menggunakan bahasa yang jelas dan tepat dengan gaya bahasa yang formal dan lugas
- Kejelasan dan ketepatan isi diwujudkan dengan menggunakan kata atau istilah yang jelas dan tepat
- Paragraf yang kohesif dan koheren
- Kalimat efektif dan tidak berbelit-belit serta ambigu
- Mengungkapkan alasan dan tujuan yang logis
Irman,
Mokhamad, dkk.2008.Bahasa
Indonesia …..
Bandung: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
MENULIS
SURAT DENGAN MEMPERHATIKAN JENIS SURAT
A.
Pengertian Surat
Dalam
berkomunikasi, manusia saling memberikan informasi. Pemberian
informasi oleh manusia dilakukan dengan dua cara, yaitu secara lisan
maupun tulisan. Informasi secara lisan terjadi jika si pemberi
informasi saling berhadapan baik langsung maupun tidak langsung.
Proses
komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara berbicara melalui
telepon, radio, televisi, dan sebagainya. Namun jika tidak dapat
berhadapan komunikasi dapat dilakukan melalui surat.
Surat
adalah salah satu sarana komunikasi tertulis untuk menyampaikan
informasi dari satu pihak (orang, instansi, atau organisasi) kepada
pihak lain (orang, instansi, atau organisasi).
B.
Format Surat
Sebagai
sarana tertulis, surat memiliki format penulisan, terutama surat
resmi atau dinas. Dengan adanya format surat, penulisan surat menjadi
teratur, bagian-bagian surat tidak ditulis sembarang melainkan
ditempatkan sesuai ketentuan.
Bentuk
penulisan surat atau format surat yang lazim dipergunakan ada 5
bentuk, yaitu :
(1)
bentuk lurus penuh (full
block style)
(2)
bentuk lurus (block
style)
(3)
bentuk setengah lurus (semiblock
style)
(4)
bentuk lekuk (indented
style)
(5)
bentuk paragraf menggantung (hanging
paragraph)
C.
Jenis-Jenis Surat
Berdasarkan
pemakaiannya surat dibagi atas tiga jenis, berikut.
1.
Surat Pribadi
Surat
pribadi adalah surat yang dipergunakan untuk kepentinganpribadi. Isi
surat berhubungan dengan urusan pribadi. Contohnya surat seorang anak
kepada orang tuanya atau surat kepada teman.
Ciri-ciri
surat pribadi seperti berikut.
(1)
Tidak menggunakan kop surat/kepala surat
(2)
Tidak menggunakan nomor surat
(3)
Salam pembuka dan penutup surat bervariasi
(4)
Penggunaan bahasa bebas, sesuai dengan keinginan si penulis surat.
(5)
Format surat bebas
2.
Surat Resmi
Surat
resmi ialah surat yang dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat
resmi, baik yang ditulis dari perseorangan, instansi, lembaga, maupun
organisasi. Contohnya: surat undangan, surat pemberitahuan, dan surat
edaran.
Ciri-ciri
surat resmi, seperti berikut.
(1)
Menggunakan kepala surat jika yang mengeluarkannya adala lembaga atau
organisasi
(2)
Menggunakan nomor surat, lampiran, dan perihal
(3)
Menggunakan salam pembuka dan penutup yang lazim atau resmi, seperti:
Assalamualikum, dengan hormat, hormat kami
(4)
Menggunakan bahasa dengan ragam resmi atau baku
(5)
Menggunakan cap/stempel jika berasal dari sebuah organisasi atau
lembaga resmi
(6)
Penulisan surat mengikuti format surat tertentu (tidak bebas)
3.
Surat Dinas
Surat
dinas ialah surat yang dipergunakan untuk kepentingan pekerjaan,
tugas dari kantor, atau kegiatan dinas. Surat ini berasal dari
instansi atau lembaga baik swasta maupun negeri. Contoh: surat tugas,
surat perintah, memorandum, dan surat keputusan. Surat dinas yang
berifat perseorangan ialah surat lamaran pekerjaan, surat permohonan
izin, dan surat permohonan cuti.
Ciri-ciri
surat dinas, seperti berikut.
(1)
Menggunakan kop/kepala surat dan instansi atau lembaga yang
bersangkutan
(2)
Menggunakan nomor surat, lampiran, dan perihal
(3)
Menggunakan salam pembuka dan penutup yang baku atau resmi, seperti :
dengan hormat, hormat kami
(4)
Menggunakan bahasa baku atau ragam resmi
(5)
Menggunakan cap/stempel instansi atau kantor pembuat surat
(6)
Format surat tertentu. Jika berasal dari instansi pemerintahan
lazimnya menggunakan format surat resmi Indonesia baru atau format
setengah lurus versi b.
Penggunaan
Bahasa dalam Surat
Sebagaimana
yang telah dijelaskan di atas bahwa penggunaan bahasa di dalam surat
bergantung pada jenis pemakaian surat dan tujuan surat. Untuk surat
pribadi, penggunaan bahasa bersifat subjektif, bergantung pada
keinginan si penulisnya dan kepada siapa surat ditujukan.
Menulis
surat untuk orang tua tentu akan menggunakan bahasa lebih formal dan
santun, berbeda dengan menulis surat untuk teman atau sahabat. Begitu
pula dengan surat pribadi yang bersifat resmi seperti surat lamaran
pekerjaan, surat permohonan izin, dan cuti. Meskipun bersifat
pribadi, tapi karena ditujukan kepada sebuah instansi atau perusahaan
tentu penulis harus menggunakan bahasa yang resmi dan formal.
Lain
halnya dengan surat resmi dan surat dinas, penggunaan bahasa
cenderung menggunakan kosakata baku dan struktur kalimat yang
lengkap. Hal ini disebabkan karena surat resmi dan surat dinas
dipergunakan untuk tujuan atau fungsi-fungsi yang bersifat resmi atau
kedinasan.
D.
Surat Lamaran Pekerjaan
Surat
lamaran pekerjaan dapat ditulis tangan atau diketik. Adakalanya suatu
perusahaan atau instansi tertentu mensyaratkan secara khusus agar
surat lamaran yang dikirimkan pelamar ditulis tangan atau diketik.
Kalaupun surat lamaran pekerjaan akan ditulis tangan, tulisan
tersebut hendaknya jelas, mudah dibaca, dan rapi. Surat yang ditulis
seperti itu akan memudahkan orang yang membacanya.
Bagian
surat lamaran pekerjaan sebagai berikut.
1.
Tempat dan tanggal penulisan surat
2.
Perihal
3.
Alamat surat
4.
Salam pembuka
5.
Pembuka surat
6.
Tujuan surat lamaran pekerjaan
7.
Identitas pelamar
8.
Penutup surat
9.
Tanda tangan dan nama jelas pelamar
Penulis
surat lamaran surat lamaran hendaknya mematuhi rambu-rambu berikut
ini.
1.
Jika ditulis tangan, tulislah sendiri di atas kertas bergaris dengan
menggunakan kertas berkualitas baik.
2.
Jika diketik, gunakan kertas HVS dengan jarak pengetikan 1 spasi.
3.
Bersih, tidak boleh ada coretan, bekas hapusan, tip ex, dan
koreksian.
4.
Sifatnya optimistis, artinya si pelamar akan mampu bekerja dengan
baik.
5.
Sapaan yang digunakan dalam surat lamaran, yaitu “ibu” atau
“bapak”, dan tidak disarankan menyapa dengan
kata”Saudara”/”Anda”.
Selain
itu, bahasa surat lamaran pekerjaan harus memenuhi aturan sebagai
berikut.
(1)
Bahasa yang digunakan sopan dan simpatik.
(2)
Kalimat yang digunakan efektif dan komunikatif.
(3)
Menggunakan bahasa yang baku dan ejaan yang tepat.
Surat
lamaran pekerjaan dapat dibuat setelah calon pelamar mendapat
informasi adanya lowongan pekerjaan di perusahaan atau instansi
tertentu. Informasi itu dapat diperoleh, baik melalui media massa
atau media audio visual. Selain itu, ada juga surat lamaran pekerjaan
yang
dibuat
atas inisiatif dari calon pelamar sendiri.
Contoh
surat lamaran pekerjaan yang umum:
Perihal
: Lamaran Pekerjaan
Jakarta, 20 Mei 2007
Yth.
Pimpinan PT Wahana Karya
Jalan
Pemuda I no. 10
Jakarta
Dengan
hormat,
Berdasarkan
pengumuman yang dimuat pada harian umum Merdeka,
tanggal 16 Mei 2007, dengan ini saya berminat untuk mengajukan diri
menjadi staf bagian Marketing di PT. Wahana Karya yang Bapak/Ibu
pimpin.
Data
diri saya sebagai berikut.
Nama
: Sinta Nur Ramadhani
Tempat,
tanggal lahir : Jakarta, 8 September 1987
Pendidikan
terakhir : Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta
Alamat
: Jalan Lembah Griya Indah No. 10, Depok
Sebagai
bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan :
1.
satu lembar daftar
riwayat hidup
2.
satu lembar fotokopi ijazah terakhir
3.
satu lembar transkrip nilai
4.
tiga lembar fotokopi sertifikat pendidikan komputer dan bahasa
Inggris
5.
satu lembar fotokopi KTP
6.
dua lembar pasfoto ukuran 4 x 6 cm
7.
satu lembar daftar
riwayat hidup.
Demikian
surat lamaran ini saya sampaikan dengan harapan mendapat perhatian
dari Bapak/Ibu. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Hormat
saya,
Ttd.
Sinta
Nur Ramadhani
E.
Surat Undangan
Undangan
berasal dari kata dasar “undang” dan akhiran “an”. Undang
berarti panggil. Mengundang berarti memanggil atau mempersilakan
datang. Undangan adalah kata benda yang berarti orang yang dipanggil
atau dipersilakan datang untuk hadir pada waktu, hari, tanggal,
tempat yang sudah ditetapkan dalam undangan.
Surat
undangan merupakan suatu penghormatan kepada orang yang diundang.
Bentuk dan susunan surat undangan hendaknya disusun semenarik
mungkin, jelas isinya dan dikirimkan tepat waktu agar yang diundang
dapat mempersiapkan untuk memenuhi undangan tersebut.
Dengan
demikian, surat undangan adalah surat pemberitahuan akan adanya suatu
acara/kegiatan pertemuan, upacara dengan harapan agar penerima
undangan dapat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan.
1.
Bagian-Bagian Surat Undangan
a.
Kepala Surat
(1)
nama badan usaha,
(2)
alamat badan usaha,
(3)
nomor telepon,
(4)
nomor kotak pos,
(5)
identitas lainnya,
(6)
tanggal surat,
(7)
nomor yang ditujukan/alamat dalam.
b.
Isi Surat
(1)
salam empbuka,
(2)
alasan,
(3)
hari dan tanggal,
(4)
waktu,
(5)
tempat,
(6)
acara.
c.
Penutup/Kaki Surat
(1)
nama badan usaha,
(2)
jabatan,
(3)
nama elasj,
(4)
nomor induk pegawai,
(5)
tembusan.
F.
Surat Edaran
Perkataan
“edaran” berasal dari kata dasar “edar” yang berarti berputar
atau berotasi. Surat edaran disebut juga sirkuler yang berarti surat
tersebut dikirim kepada berbagai pihak yang bentuk dan isinya sama.
1.
Pengertian Surat Edaran pada Suatu Instansi
Surat
edaran adalah surat pemberitahuan tertulis yang ditujukan kepada
pejabat/pegawai. Surat edaran ini berisi penjelasan mengenai sesuatu
hal, misalnya kebijakan pimpinan, petunjuk mengenai tata cara
pelaksanaan, atau suatu peraturan perundang-undangan.
Fungsi
surat edaran:
1.
di kalangan instansi pemerintah, merupakan surat yang dapat memberi
petunjuk, penjelasan tentang pelaksanaan atau peraturan;
2.
di perusahaan swasta, surat edaran dapat berfungsi sebagai
pemberitahuan atau pengumuman.
Macam
surat edaran:
1.
Surat edaran pemerintah, yaitu adanya pemberitahuan kepada seluruh
rakyat Indonesia yang bersifat nasional.
Misalnya:
(1)
edaran tentang perayaan hari besar nasional
(2)
edaran tentang sensus penduduk
(3)
edaran tentang Pemilu
2.
Surat edaran dari instansi pemerintah adalah pemberitahuan dan
penjelasan tentang pelaksanaan peraturan di lingkungan instansi
tersebut.
Misalnya,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membuat edaran tentang:
(1)
petunjuk kenaikan kelas
(2)
petunjuk UAS, penetapan waktu ujian serta penentuan pelaksanaan ujian
dan petunjuk penilaian ujian serta petunjuk kelulusan ujian.
3.
Surat edaran dari perusahaan, terdiri atas :
(1)
Surat edaran khusus adalah surat pemberitahuan sesuatu yang ditujukan
untuk satu lingkungan tertentu
(2)
Surat edaran umum adalah surat edaran untuk memperkenalkan jasa
perusahaan dan hasil produk dari ke seluruh lapisan masyarakat /
khalayak.
2.
Susunan Surat Edaran dari Instansi Pemerintah
Bagian-bagian
surat ini adalah sebagai berikut.
a.
Kepala surat
(1)
Tulisan “EDARAN” ditulis dengan huruf besar seluruhnya “Hal”,
diberi garis bawah.
(2)
Sebelah kiri atas : Di bawah “Hal” ditulis nama pejabat dan
alamat yang dituju.
(3)
Sebelah kanan atas : Tempat tanggal, bulan, dan tahun.
b.
Isi surat edaran/batang tubuh
Dirumuskan
dalam bentuk uraian yang terdiri atas:
(1)
pendahuluan
(2)
inti
(3)
penutup
c.
Kaki surat/bagian akhir, terdiri atas :
(1)
nama jabatan
(2)
tanda tangan pejabat yang menerbitkan surat edaran
(3)
nama pejabat dan NIP/NRP
(4)
cap dinas
(5)
tembusan (bila dianggap perlu)
G.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penulisan Surat Dinas dan Resmi
1.
Penulisan Kepala Surat
Kepala
surat berguna untuk memberikan informasi kepada penerima surat
tentang nama, alamat, serta keterangan lain yang berkaitan dengan
instansi atau badan pengirim surat. Unsur-unsur alamat dipisahkan
dengan tanda koma, bukan dengan tanda hubung.
Kata
jalan
dituliskan
lengkap jalan,
tidak
singkat Jl.
atau
Jln.
Jika
kantor tersebut memiliki nomor telepon,
tuliskan kata Telepon,
bukan
Tilpon,
dan bukan pula singkatan Telp. atau Tilp. Kemudian, nomor telepon
tidak perlu diberi titik karena bukan merupakan suatu jumlah (Telepon
4536754, bukan Telpon 4.536.754).
2.
Penulisan tanggal surat
Tanggal
surat dinas tidak perlu didahului nama kota karena nama kota itu
sudah tercantum pada kepala surat. Selanjutnya, nama bulan itu jangan
disingkat atau ditulis dengan angka (November menjadi Nov. atau 11;
Februari menjadi Feb. atau 2). Tahun juga dituliskan lengkap, tidak
disingkat dengan tanda koma di atas. Pada akhir tanggal surat, tidak
dibubuhkan tanda baca apa pun, baik titik maupun tanda hubung.
Perhatikan penulisan tanggal surat dinas yang benar.
3.
Penulisan Alamat Surat
Penulisan
alamat (dalam) surat diatur sebagai berikut.
a.
Alamat yang dituju ditulis di sebelah kiri surat pada jarak tengah
antara hal surat dan salam pembuka. Posisi alamat surat pada sisi
sebelah kiri ini lebih menguntungkan daripada dituliskan di sebelah
kanan karena kemungkinan pemenggalan alamat tidak ada. Jadi, alamat
yang cukup panjang pun dapat dituliskan tanpa dipenggal karena
tempatnya cukup leluasa.
b.
Alamat surat tidak diawali kata kepada karena kata tersebut berfungsi
sebagai penghubung intrakalimat yang menyatakan arah. (Alamat
pengirim pun tidak didahului kata dari
karena
kata dari
berfungsi
sebagai penghubung intrakalimat yang menyatakan asal).
c.
Alamat yang dituju diawali dengan Yth.
(diikuti
titik) atau Yang
terhormat (tidak
diikuti titik).
d.
Sebelum mencantumkan nama orang yang dituju, biasanya penulis surat
mencantumkan sapaan Ibu,
Bapak, Saudara atau
Sdr.
e.
Jika nama orang yang dituju bergelar akademik yang ditulis di depan
namanya, seperti Drs.,
Ir.,
dan
Drg.,
kata
sapaan Bapak,
Ibu,
atau Saudara
tidak
digunakan. Demikian juga, jika alamat yang dituju itu memiliki
pangkat, seperti sersan
atau
kapten,
kata
sapaan Bapak,
Ibu atau
Saudara
tidak
digunakan. Jika yang dituju adalah jabatan orang tersebut seperti
direktur PT atau kepala instansi tertentu, kata sapaan Bapak,
Ibu, atau
Sdr.
tidak
berimpit dengan gelar,
pangkat, atau
dengan jabatan.
Perhatikan
contoh penulisan alamat yang benar :
Yth.
Bapak Syakuro, B.A.
Yth.
Bapak Darwino
Yth.
Ir. Mariani
Yth.
Kepala Desa Tajur
Yth.
Kapten Sumijo
f.
Penulisan kata jalan
tidak
singkat. Kemudian, nama gang, nomor, RT, dan RW biasanya dituliskan
lengkap dengan huruf capital setiap awal kata. Selanjutnya, nama kota
dan provinsi dituliskan dengan huruf awal kapital, tidak perlu
digarisbawahi atau diberi tanda baca apa pun. Seperti pada alamat
pengirim, pada alamat yang dituju pun perlu dicantumkan kode pos jika
kota tersebut telah memilikinya untuk memperlancar dan mempermudah
penyampaian surat Anda ke alamat yang dituju.
Perhatikan
contoh penulisan alamat di bawah ini:
Yth.
Kepala Biro Umum
Departemen
.....
Jalan
Menteng Raya No. 5
Jakarta
Pusat 12254
Adakalanya
alamat yang dituju oleh penulis tidak jelas. Misalnya, penulis surat
tidak tahu persis kepada siapa surat tersebut dialamatkan, apakah
kepada direktur, kepada sekretarisnya,
ataukah
kepada kepala bagian personalianya. Kalau demikian permasalahannya,
penulis surat harus menggunakan alamat yang umum saja, seperti
pimpinan sehingga alamat itu, misalnya, ditulis sebagai berikut :
Yth.
Pimpinan Pabrik Minyak Lam Kiau
Jalan
Tabing No. 10
Padang
Jika
kita berkirim surat kepada seseorang berdasarkan iklan surat kabar,
seperti iklan dalam Kompas
atau
dalam Suara
Pembaharuan,
hendaklah surat itu ditujukan kepada pemasang iklan tersebut, dan
bukan kepada iklannya. Oleh karena itu, alamat yang benar menurut
kaidah bahasa adalah alamat yang ditujukan kepada pemasangnya,
seperti contoh berikut :
Yth.
Pemasang Iklan
pada
harian Kompas
Kotak
Pos 2619 Jakarta 10001
di
Bawah No. 658
Dalam
alamat yang dituju kadang-kadang digunakan singkatan u.p. (untuk
perhatian). Bentuk singkatan u.p. (u kecil diberi titik dan p kecil
diberi titik) digunakan di depan nama bagian dari suatu instansi
apabila masalah surat dipandang cukup dapat diselesaikan oleh pejabat
yang tercantum setelah u.p. tanpa diperlukan penentuan kebijaksanaan
langsung pemimpin/kepala instansi yang bersangkutan. Misalnya :
Yth.
Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
u.p.
Kepala Subbagian Keuangan
Jalan
Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta
13220
4.
Penulisan salam pembuka
Penulisan
salam pembuka mengikuti aturan berikut. Salam pembuka dicantumkan di
sebelah kiri satu garis tepi dengan nomor, lampiran, hal, dan alamat
surat. Huruf pertama awal kata dituliskan dengan huruf kapital,
sedangkan kata yang lain dituliskan kecil semua, kemudian salam
pembuka itu diikuti tanda koma.
Ungkapan
yang lazim digunakan sebagai salam pembuka dalam surat-surat dinas
yang bersifat netral adalah.
Dengan
hormat, (D kapital, h kecil)
Salam
sejahtera, (Skapital, s kecil)
Saudara
.....,
Saudara
..... yang terhormat,
Bapak
..... yang terhormat,
Dr.
Ir. Aceng Suherlan yang terhormat,
Prof.
Adad Iskandar yang terhormat,
5.
Penulisan Salam Penutup
Huruf
awal kata salam penutup ditulis dengan huruf kapital, sedangkan
kata-kata lainnya ditulis kecil. Sesudah salam penutup, dibubuhkan
tanda koma. Misalnya :
Benar
Salah
Salam
takzim, Salam Takzim,
Salam
kami, Salam Kami,
Hormat
kami, Hormat Kami,
Wasalam,
Wassalam,
6.
Tanda Tangan, Nama Jelas, dan Jabatan
Surat
dinas dianggap sah jika ditandatangani oleh pejabat yang berwewenang,
yaitu pemegang pimpinan suatu instansi, lembaga, atau organisasi.
Nama jelas penanda tangan dicantumkan di bawah tanda tangan dengan
hanya huruf awal setiap kata ditulis kapital, tanpa diberi kurung dan
tanpa diberi tanda baca apa pun. Di bawah nama penanda tangan,
dicantumkan nama jabatan sebagai identitas penanda tangan tersebut.
Jika akan dicantumkan pula nomor induk pegawai pejabat yang
bersangkutan, pencantumannya di antara nama jelas dan jabatan. Akan
tetapi, sebenarnya pencantuman NIP bukan merupakan suatu keharusan.
Perhatikan
contoh di bawah ini:
Prof.
Dr. Sangkuni, M.Sc.
NIP.
130427722
Rektor
7.
Penggunaan Bentuk Singkatan a.n. dan u.b.
Bentuk
a.n. (a kecil diberi titik dan n kecil diberi titik) digunakan jika
penandatanganan dilakukan oleh pejabat setingkat di bawah pimpinan
yang ditunjuk oleh pimpinan instansi yang bersangkutan. Bentuk
singkatan a.n. dicantumkan di depan nama jabatan yang melimpahkan
wewenang penandatanganan itu.
Perhatikan
bentuk penulisan bentuk singkatan a.n. di bawah ini.
..............................
a.n.
Direktur Utama
PT
Sumber Waras
Tanda
tangan
Mardoni
Direktur
Pemasaran
................................
a.n.
Kepala Pusat Pendidikan
dan
Pelatihan BNI 1946
Nama
jelas
Sekretaris
Pusdiklat
Bentuk
singkatan u.b.(u kecil diberi titik dan b kecil diberi titik)
digunakan jika penandatanganan surat itu dilakukan oleh staf suatu
instansi yang kedudukannya dua tingkat atau lebih di bawah
pimpinannya.
Perhatikan
bentuk penulisan singkatan u.b. di bawah ini :
...............................
Kepala
Kantor Wilayah
Departemen
Tenaga Kerja
Propinsi....
u.b.
Junaedi
Kepala
Bagian Personalia
8.
Tembusan
Ada
beberapa instansi yang menamakan bagian ini tindasanatau c.c. (carbon
copy), Pusat Bahasa tidak menganjurkan penggunaan istilah tersebut.
Yang dianjurkan Pusat Bahasa adalah Tembusan.
Perhatikan
penulisan tembusan di bawah ini:
Tembusan:
1.
Direktur Sarana Pendidikan
2.
Kepala Bagian Tata Usaha
3.
Sdr. Sukijan
9.
Inisial
Inisial
disebut juga sandi, yaitu kode pengenal yang berupa singkatan nama
pengonsep dan singkatan nama pengetik surat. Inisial ditempatkan pada
bagian bawah di sebelah kiri. Misalnya:
SR/Ggn
SR
: Singkatan nama pengonsep: Siti Rumati
Ggn
: Singkatan nama pengetik: Gugun
MENULIS
LAPORAN ILMIAH SEDERHANA
- Pengertian Laporan
Laporan
ialah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok
orang yang berhubungan secara struktural atau kedinasan setelah
melaksanakan tugas yang diberikan.
- Sistematika Laporan Ilmiah
Laporan
ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi halhal yang
terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap.
Laporan ilmiah atau laporan formal terdiri atas :
1.
Bagian awal, terdiri atas :
- Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi asal, kota penyusunan, dan tahun
- Halaman pengesahan (jika perlu)
- Halaman motto/semboyan (jika perlu)
- Halaman persembahan (jika perlu)
- Prakata;/kata pengantar
- Dafar isi;
- Dafar tabel (jika ada)
- Dafar grafik (jika ada)
- Daftar gambar (jika ada)
- Abstak : uraian singkat tentang isi laporan
2.
Bagian Isi
a.
Bab I Pendahuluan, berisi tentang
(1)
Latar belakang
(2)
Identitas masalah
(3)
Pembatasan masalah
(4)
Rumusan masalah
(5)
Tujuan dan manfaat
b.
Bab II : Kajian Pustaka
c.
Bab III : Metode
d.
Bab IV : Pembahasan
e.
Bab V : Penutup
3.
Bagian Akhir
- Daftar Pustaka
- Daftar Lampiran
- Indeks : daftar istilah
C.
Langkah-Langkah Membuat Laporan
Agar
dapat menyusun laporan yang baik dan efektif, perlu dipersiapkan
dengan matang. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah seperti berikut.
1.
Menetapkan tujuan laporan
Pembuat
laporan harus tahu, untuk apa laporan dibuat dan siapa yang akan
membaca laporan tersebut.
2.
Menentukan Bahan Laporan
Bahan-bahan
laporan yang dapat digunakan adalah:
- surat-surat keputusan
- notulen hasil rapat
- buku-buku pedoman
- hasil kegiatan
- hasil penelitian
- hasil diskusi
3.
Menentukan cara penngumpulan data
Cara
pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
- Membuat petunjuk pelaksanaan bagi peneliti yang menjelaskan sasaran dan penyesuaian kegiatan
- Melakukan wawancara
- Mengumpulkan dokumen pelaksanaan kegiatan
- Penyusunan daftar pengecekkan untuk melihat data yang ada dan yang tidak ada
4.
Mengevaluasi Data
Data
yang telah dikumpulkan dievaluasi untuk dibuat suatu simpulan.
5.
Membuat Kerangka Laporan
Kerangka
laporan dibuat sesuai dengan sistematika laporan.
D.
Teknik Pengutipan
Kutipan
adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang ahli, penulis, dan
ucapan seorang terkenal. Dalam penulisan karya ilmiah, kutipan
dipergunakan untuk memperjelas dan menegaskan isi uraian atau untuk
membuktikan apa yang dituliskan.
Menurut
jenisnya, ada dua macam kutipan, yaitu kutipan langsung
(lengkap)
dan kutipan tidak langsung (isi). Kutipan langsung adalah pinjaman
pendapat dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi
kalimat dari sebuah teks asli.
Kutipan
tidak langsung adalah pinjaman dari seorang penulis atau tokoh
terkenal yang berupa intisari atau ikhtisar dari pendapat tersebut.
Dalam
kutipan dicantumkan sumber informasi kutipan. Sumber informasi berisi
nama, tahun, dan halaman. Sumber dapat disajikan sebagai berikut.
1.
Kutipan Langsung
Ada
dua cara membuat kutipan langsung, yaitu kutipan langsung pendek dan
kutipan langsung panjang.
a.
Kutipan Langsung Pendek
Kutipan
langsung pendek, panjangnya tidak lebih dari empat baris tulisan
kutipan ini langsung diintegrasikan dengan teks, diapit dengan tanda
kutip, dan disertai sumber informasi kutipan. Jarak antara baris
dengan baris kutipan dua spasi.
Contoh:
Amalia
(1999:12) menyimpulkan “Ada hubungan yang erat antara kemampuan
berbahasa dan lingkungan sosial tempat tinggal pemakai bahasa.”
Teks
…………………………………………………
…………………………………………………
…………………………………………………
………………………………………………..
……………..”_________________________
________________________”!
……………..
“_______________
(Rusydi H.,2004:17)……
……………………………………………….
………………………………………………..
………………………………………………..
b.
Kutipan Langsung Panjang
Kutipan
langsung panjang adalah kutipan yang lebih dari empat baris tulisan.
Kutipan dipisahkan dari teks, jarak baris dengan baris kutipan satu
spasi, kutipan boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip. Kutipan
disertai sumber informasi kutipan.
Contoh:
Suria
Sumantri
(1987:165) mengemukakan bahwa :
“Perbedaan
utama antara manusia dan binatang, terletak pada kemampuan manusia
untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh
pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka
secara langsung mencari objek yang diinginkannya atau membuang benda
yang menghalanginya. Dengan demikian, sering kita melihat seekor
monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan;
sedangkan manusia yang paling primitif pun telah tahu mempergunakan
bandringan, laso, atau melempar dengan batu. Manusia sering disebut
homo faber, makhluk yang membuat alat. Kemampuan membuat alat itu
dimungkinkan oleh pengetahuan itu juga membutuhkan alat-alat.
Kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan.
Berkembangnya pengetahuan itu juga membutuhkan alat-alat.”
2.
Kutipan Tidak Langsung
Kutipan
tidak langsung adalah kutipan yang dikemukakan dengan bahasa penulis
sendiri. Kutipan tidak langsung ditulis tanpa tanda kutip, langsung
diintegrasikan dengan teks, jarak spasi dalam kutipan dua spasi,
disertai sumber informasi kutipan yang tidak selalu menyebutkan nomor
halaman.
Contoh:
Herawati
(1999:31) menyimpulkan bahwa siswa jurusan ekstra memiliki kemampuan
menulis karya ilmiah yang lebih baik daripada siswa jurusan sosial.
E.
Teknik Penulisan Daftar
Pustaka
Daftar
pustaka atau bibliografi yang berisi buku, makalah, artikel, atau
bahan lainnya mempunyai pertalian dengan sebuah tulisan atau sebagian
dari tulisan yang sedang dibuat.
Unsur-unsur
yang ditulis dalam daftar
pustaka secara berturut-turut meliputi:
- nama penulis,
- tahun penerbitan,
- judul tulisan,
- kota tempat penerbitan, dan
- nama penerbit.
Penulisan
daftar pustaka, secara umum adalah sebagai berikut.
- Daftar Pustaka disusun secara alfabet (A,B,C,.....) berturut-turut dari atas ke bawah tanpa menggunakan angka arab, tanda hubung, dan semacamnya.
- Cara penulisan sebuah sumber pustaka berturut-turut adalah sebagai berikut.
- Penulisan nama pengarang
Nama
pengarang bagian belakang (nama akhir atau nama keluarga) ditulis
lebih dahulu, diikuti tanda koma baru nama bagian depan kemudian
diikuti titik. Jika buku disusun oleh sebuah komisi atau lembaga,
dipakai menggantikan nama pengarang. Jika tidak ada nama pengarang,
urutannya harus dimulai dengan judul buku.
- Menuliskan tahun terbit buku, diikuti tanda titik
- Menuliskan judul buku, diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf miring, diikuti tanda titik
- Menuliskan tempat atau kota penerbitan, diikuti tanda titik dua.
- Menuliskan nama penerbit dan diikuti tanda titik
- Apabila digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama penulisnya, sumber ditulis dari buku yang lebih dulu terbit diikuti buku yang terbit kemudian.
- Bila tidak ada nama penulis, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan alfabet.
- Jarak antara baris dan baris untuk satu referensi adalah satu spasi tetapi jarak antara pokok dengan pokok adalah dua spasi.
- Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak empat ketukan mesin tik.
- Apabila sebuah referensi ditulis oleh lebih dari dua orang penulis, hanya satu nama yang dicantumkan dalam daftar pustaka dengan susunan nama terbalik. Untuk nama penulis lainnya disingkat dkk atau dll.
Selain
ketentuan di atas, ada ketentuan-ketentuan khusus sebagai berikut.
- Sumber dari artikel dan buku artikel
Nama
penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan.
Judul artikel ditulis tanpa garis bawah atau huruf miring. Nama
editor ditulis seperti menulis nama biasa, diberi keterangan (ED)
atau (eds). Judul buku kumpulannya digaris bawahi atau ditulis dengan
huruf miring dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung.
Contoh:
Atikah,
H.Z. 1998. Karakteristik Penilaian Kualitatif, dalam Kurniasih (ED).
Pengembangan
Penilaian Kualitatif dalam Mata Pelajaran Bahasa dan
Sastra
Indonesia (hlm.
36-43). Bandung: PSBS Cabang Bandung.
- Sumber dari artikel dalam jumlah
Nama
judul (majalah ilmiah) ditulis dengan garis bawah atau huruf miring.
Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal tahun ke berapa dan nomor
dari halaman artikel tersebut.
Contoh:
Sunarti.
1994. PAN
dan PAP dalam Penilaian Keberhasilan Belajar Semiotika,
(02);13- 22.
- Sumber dari artikel dalam majalah atau koran
Nama
pengarang ditulis paling depan diikuti oleh tahun, dan bulan (jika
ada). Nama majalah diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf
miring. Nomor halaman disebut pada bagian akhir.
Contoh:
Huda,
N. 1991. 13 November. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering. Jawa
Pos,
hlm. 6.
- Sumber dari koran tanpa pengarang
Judul
ditulis pada bagian awal. Tahun, tanggal, dan bulan ditulis sebelah
judul. Kemudian, nama surat kabar ditulis dengan garis bawah atau
dengan huruf miring dan diikuti nomor halaman.
Contoh
:
Perkembangan
Properti Indonesia. 1999, 21 September. Kompas,
hlm 7.
- Sumber dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa pengarang dan tanpa lembaga.
Judul
atau dokumen ditulis di bagian awal dengan diberi garis bawah atau
ditulis dengan huruf miring, diikuti tahun penerbitan dokumen, kota
penerbit, dan nama penerbit.
Contoh:
Undang-Undang
Republik Indonesia, No.2 Th. 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta.
PT Armas Dutajaya.
- Sumber berupa karya terjemahan
Nama
pengarang asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan karya
asli, judul terjemahan, nama penerjemah, tahun terjemahan, nama
tempat penerbitan, dan nama penerbit terjemahan. Apabila tahun
penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis dengan kata “Tanpa
tahun”.
Contoh:
Ary,
Donald L.C. Jacobs, dan A. Rozawick. “Tanpa tahun”. Pengantar
Penelitian Pendidikan.
Arif Furchan (pen). 1982. Surabaya:Usaha
Nasional.
- Sumber berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi
Nama
penyusun ditulis paling depan, diikuti tahun yang tercantum pada
sampul. Judul skripsi dan tesis ditulis dengan garis bawah atau huruf
miring diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis, atau disertasi tidak
diterbitkan, nama kota tempat perguruan tinggi, serta nama fakultas
dan perguruan tinggi.
Contoh:
Solihin.
1992. Kesesuaian
TIK, KBM, dan Evaluasi Mahasiswa PPL Universitas Lampung.
Skripsi tidak diterbitkan. Lampung: FKIP
Universitas
Lampung.
- Sumber berupa makalah yang disajikan dalam seminar
Nama
penyusun ditulis paling depan, diikuti dengan tahun, judul makalah,
pernyataan makalah disajikan dalam nama pertemuan yang diikuti
ditulis dengan garis bawah atau huruf miring, lembaga penyelenggara,
tempat, dan tanggal penyelenggaraan.
Contoh:
Kuntarto,
Bambang. 1999. HIV di Kalangan Remaja. Makalah disajikan dalam
Seminar
Kesehatan, Pemda Kabupaten Lebak,
Lebak, 10-11 September 1999.
F.
Teknik Penulisan Istilah (Indeks)
Dalam
setiap karya ilmiah, terdapat banyak istilah yang digunakan. Istilah-
istilah tersebut dipergunakan untuk memberi penguatan atau dukungan
agar tulisan berbobot dan ilmiah. Beberapa istilah memang sudah
merupakan unsur serapan bahasa Indonesia, namun ada istilah yang
masih murni berbentuk bahasa aslinya, belum diserap. Oleh sebab itu,
ada beberapa istilah yang memang harus dijelaskan pengertiannya.
Istilah-istilah
yang dipergunakan dalam suatu tulisan biasanya dikumpulkan di bagian
akhir. Bagian daftar istilah disebut indeks. Indeks berguna bagi
pembaca untuk mencari kata yang terdapat di dalam tulisan, khususnya
karya tulis atau laporan berbentuk buku. Oleh sebab itu, cara
penulisan indeks harus disusun berdasarkan abjad setelah dibuat
daftar istilah atau kata-kata penting yang perlu diindekskan. Selain
disusun berdasarkan abjad, juga disertakan nomor halaman tempat
istilah tersebut berada agar mudah mencarinya.
G.
Format Penulisan Laporan Ukuran dan Jenis Kertas
Format
penulisan sesuai dengan sistematika laporan formal di atas. Format
penulisannya tergambarkan dalam daar isi dengan pengetikan
atau penulisan yang teratur, terperinci, dan jelas bagian-bagiannya.
Adapun teknik penulisan meliputi hal-hal sebagai berikut
1.
Margin
Ukuran
margin terdiri atas batas kiri dan batas atas 4 cm. Serta batas kanan
dan batas bawah 3 cm dari pinggir kertas. Semua tulisan termasuk
tabel dan gambar berada dalam margin. Subjudul bagian bawah halaman
harus diikuti dengan dua baris penuh di bawahnya, bila tidak
memungkinkan subjudul ditulis pada halaman berikutnya.
Begitupun
kata terakhir pada suatu halaman tidak boleh dipisahkan ke halaman
berikutnya tetapi seluruh kata ditulis pada halaman berikutnya.
Perhatikan gambar berikut ini:
\
3
cm
4
cm
4
cm
3 cm
2.
Spasi
Secara
umum keseluruhan tulisan menggunakan spasi ganda. Kecuali untuk
tabel, daftar pustaka, dan kutipan mempergunakan pula spasi tunggal
(sesuai dengan aturan penulisan kutipan dan daftar pustaka). Alinea
baru dapat dimulai dengan perbedaan spasi.
3.
Penomoran
Penomoran
meliputi penomoran halaman, bab, subbab, dan rincian uraian.
a.
Penomoran Halaman
Halaman-halaman
pendahuluan diberi nomor dengan menggunakan angka romawi kecil.
Halaman-halaman isi dan penunjang menggunakan angka arab. Letak
penomoran halaman ditempatkan di tengah dan dua spasi di atas margin
bawah (bottom,
center,
headfooter 2,2
cm)
b.
Penomoran Bab dan Subbab
Penomoran
mempergunakan penanda urutan sebagai berikut.
- Tingkat pertama dengan tanda: I, II, III, IV, V, dan seterusnya.
- Tingkat kedua dengan tanda: 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, 1.5, dan seterusnya.
- Tingkatan ketiga dengan tanda: 1.1.1, 1.1.2, 1.1.3, 1.1.3, 1.1.4, 1.1.5, dan seterusnya.
- Tingkatan keempat dengan tanda: 1.1.1.1, 1.1.1.2, 1.1.1.3, 1.1.1.4, dan seterusnya.
- Tingkatan kelima dengan tanda: 1.1.1.1.1, 1.1.1.1.2, 1.1.1.1.3, 1.1.1.1.4, dan seterusnya.
4.
Tabel atau Gambar
a.
Tabel
Sebuah
tabel terdiri atas nomor dan judul tabel, stub,
box head,
dan body.
Nomor tabel ditulis dengan angka arab. Penomoran tabel menurut bab,
misalnya nomor tabel 2.1, artinya tabel tersebut tabel pertama yang
ada pada bab kedua. Judul harus padat dan dapat memberikan keterangan
tentang data yang tercantum dalam tabel.
Judul
ditulis dengan huruf kapital setiap unsur katanya kecuali kata
hubung. Apabila tabel bersumber pada tulisan atau referensi lain,
tuliskan sumber referensinya pada bawah tabel.
b.
Gambar
Istilah
gambar mencakup di dalamnya diagram bundar, batang, garis, histogram,
dan sebagainya. Gambar harus diberi nomor dan judul. Pemberian nomor
dan judul tidak berbeda dengan pemberian nomor dan judul pada tabel.
Perbedaannya terletak pada penempatan. Nomor dan judul gambar
diletakkan di bawah gambar.
5.
Bahasa
Bahasa
yang dipergunakan dalam laporan ilmiah harus mengandung kejelasan dan
reproduktif. Untuk ejaan dan peristilahan berpedoman pada EYD dan
Pedoman Pembentukan Istilah.
6.
Jenis Kertas
Jenis
kertas yang dipakai adalah jenis HVS, ukuran folio, atau kuarto
bergantung pada aturan yang telah ditetapkan.
Laporan
Penelitian
Magang
sebagai Jembatan Mobilitas Sosial
dari
Petani menjadi Perajin
I.
Pendahuluan
Perajin sering dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi
daripada petani. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa seorang
perajin biasanya bekerja di dalam rumah, terlindung dari terik sinar
matahari sehingga suasananya tampak nyaman. Sebaliknya, petani harus
bekerja di sawah, di bawah sengatan sinar matahari, dan kadang harus
bergumul dengan kotoran-kotoran yang berbau tidak sedap. Oleh karena
itu, tidak berlebihan jika sebagian masyarakat pedesaan masih
menganggap bahwa pekerjaan perajin lebih berprestise daripada petani
meskipun hanya menjadi perajin industri kecil dengan skala usaha
yang masih terbatas.
Lapangan pekerjaan di sektor industri kecil yang makin terbuka
menyebabkan terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin.
Meskipun sebenarnya mereka belum memiliki keahlian yang memadai,
terlebih lagi tingkat pendidikan mereka sebagian besar (73%) masih
berpendidikan SD ke bawah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
produktivitas kerja dan hasil yang mereka peroleh masih rendah.
Berkaitan dengan hal di atas, perlu diadakan penelitian yang
saksama mengenai mobilitas sosial dan petani menjadi perajin. Dalam
laporan ini, objek penelitiannya adalah masyarakat pedesaan di
sekitas Surakarta, Jawa Tengah.
II. Tujuan
Penelitian
- Menelaah penyebab terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin
- Memberikan penyadaran pada masyarakat dampak industrialisasi
III.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan survei secara kualitatif
dengan cara melakukan wawancara dengan narasumber. Digunakannya
metodologi kualitatif agar hasil yang dicapai benar-benar akurat dan
dapat dipertanggungjawabkan. Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai
berikut.
1. Menentukan objek penelitian
2. Melakukan wawancara dengan narasumber
3. Mengklasifikasi masalah
4. Merumuskan masalah
5. Memberikan solusi/simpulan
IV.
Hasil Penelitian
Berdasarkan survei yang telah dilakukan, ada beberapa faktor yang
menyebabkan mobilitas sosial dari petani menjadi perajin melalui
proses magang sebagai berikut.
1. Pengaruh media masa
Media massa baik berupa media elektronik maupun cetak telah
membawa pengaruh yang besar terhadap pola pikir masyarakat pedesaan.
Selama ini, media massa selalu mengangkat kesuksesankesuksesan
seorang perajin. Dengan demikian, lambat laun opini
publik tersebut akhirnya mendorong keinginan petani untuk
menjadi perajin.
2. Dukungan sosial
keluarga dan masyarakat
Keluarga, kerabat dekat, dan komunitas yang melatari kehidupan
petani sering memberikan saran dan harapan yang besar untuk menjadi
perajin. Mereka selalu memandang orangorang yang telah sukses berkat
usaha menjadi seorang perajin industri kecil meskipun mereka masih
berstatus magang atau buruh kontrak.
3. Sistem perekonomian Indonesia yang lebih mengutamakan sektor
industri daripada pertanian
Perekonomian negara kita yang terbawa arus globalisasi dan
kepentingan neoliberalisme (para pemilik modal) telah mendorong
lajunya industrialisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
investasi yang mereka tanamkan lebih mengarah pada sektor industri.
4. Tingkat pendidikan yang rendah
Rendahnya tingkat pendidikan mereka dan keahlian yang belum
memadai membuat mereka tidak memiliki sistem kontrol diri yang kuat.
Konsep diri yang lemah ini menyebabkan mereka mudah terbawa arus
zaman.
V.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa faktor yang menyebabkan para petani melakukan mobilitas
sosial menjadi perajin. Jika tidak ada suatu program penyadaran baik
dari pemerintah maupun masyarakat setempat, dapat dipastikan hasil
produksi pertanian akan makin berkurang sehingga negara pun akan
mengimpor beras dari luar negeri.
Akhirnya, diharapkan penelitian ini mampu memberikan penyadaran
pada masyarakat dan dapat menjadi masukan untuk pihak-pihak
yang berwenang memberikan kebajikan.
Pihak-pihak tersebut misalnya para dewan legislatif dan eksekutif
supaya memberikan arahan dan rencana pembangunan yang lebih berpihak
pada sektor pertanian, terutama masyarakat miskin pedesaan.
(Sumber : Rank Karsidi,Paedagogia Jilid 3, Nomor 1)
MENULIS
LAPORAN ILMIAH SEDERHANA
- Pengertian Laporan
Laporan
ialah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok
orang yang berhubungan secara struktural atau kedinasan setelah
melaksanakan tugas yang diberikan.
- Sistematika Laporan Ilmiah
Laporan
ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi halhal yang
terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap.
Laporan ilmiah atau laporan formal terdiri atas :
1.
Bagian awal, terdiri atas :
- Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi asal, kota penyusunan, dan tahun
- Halaman pengesahan (jika perlu)
- Halaman motto/semboyan (jika perlu)
- Halaman persembahan (jika perlu)
- Prakata;/kata pengantar
- Dafar isi;
- Dafar tabel (jika ada)
- Dafar grafik (jika ada)
- Daftar gambar (jika ada)
- Abstak : uraian singkat tentang isi laporan
2.
Bagian Isi
a.
Bab I Pendahuluan, berisi tentang
(1)
Latar belakang
(2)
Identitas masalah
(3)
Pembatasan masalah
(4)
Rumusan masalah
(5)
Tujuan dan manfaat
b.
Bab II : Kajian Pustaka
c.
Bab III : Metode
d.
Bab IV : Pembahasan
e.
Bab V : Penutup
3.
Bagian Akhir
- Daftar Pustaka
- Daftar Lampiran
- Indeks : daftar istilah
C.
Langkah-Langkah Membuat Laporan
Agar
dapat menyusun laporan yang baik dan efektif, perlu dipersiapkan
dengan matang. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah seperti berikut.
1.
Menetapkan tujuan laporan
Pembuat
laporan harus tahu, untuk apa laporan dibuat dan siapa yang akan
membaca laporan tersebut.
2.
Menentukan Bahan Laporan
Bahan-bahan
laporan yang dapat digunakan adalah:
- surat-surat keputusan
- notulen hasil rapat
- buku-buku pedoman
- hasil kegiatan
- hasil penelitian
- hasil diskusi
3.
Menentukan cara penngumpulan data
Cara
pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
- Membuat petunjuk pelaksanaan bagi peneliti yang menjelaskan sasaran dan penyesuaian kegiatan
- Melakukan wawancara
- Mengumpulkan dokumen pelaksanaan kegiatan
- Penyusunan daftar pengecekkan untuk melihat data yang ada dan yang tidak ada
4.
Mengevaluasi Data
Data
yang telah dikumpulkan dievaluasi untuk dibuat suatu simpulan.
5.
Membuat Kerangka Laporan
Kerangka
laporan dibuat sesuai dengan sistematika laporan.
D.
Teknik Pengutipan
Kutipan
adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang ahli, penulis, dan
ucapan seorang terkenal. Dalam penulisan karya ilmiah, kutipan
dipergunakan untuk memperjelas dan menegaskan isi uraian atau untuk
membuktikan apa yang dituliskan.
Menurut
jenisnya, ada dua macam kutipan, yaitu kutipan langsung
(lengkap)
dan kutipan tidak langsung (isi). Kutipan langsung adalah pinjaman
pendapat dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi
kalimat dari sebuah teks asli.
Kutipan
tidak langsung adalah pinjaman dari seorang penulis atau tokoh
terkenal yang berupa intisari atau ikhtisar dari pendapat tersebut.
Dalam
kutipan dicantumkan sumber informasi kutipan. Sumber informasi berisi
nama, tahun, dan halaman. Sumber dapat disajikan sebagai berikut.
1.
Kutipan Langsung
Ada
dua cara membuat kutipan langsung, yaitu kutipan langsung pendek dan
kutipan langsung panjang.
a.
Kutipan Langsung Pendek
Kutipan
langsung pendek, panjangnya tidak lebih dari empat baris tulisan
kutipan ini langsung diintegrasikan dengan teks, diapit dengan tanda
kutip, dan disertai sumber informasi kutipan. Jarak antara baris
dengan baris kutipan dua spasi.
Contoh:
Amalia
(1999:12) menyimpulkan “Ada hubungan yang erat antara kemampuan
berbahasa dan lingkungan sosial tempat tinggal pemakai bahasa.”
Teks
…………………………………………………
…………………………………………………
…………………………………………………
………………………………………………..
……………..”_________________________
________________________”!
……………..
“_______________
(Rusydi H.,2004:17)……
……………………………………………….
………………………………………………..
………………………………………………..
b.
Kutipan Langsung Panjang
Kutipan
langsung panjang adalah kutipan yang lebih dari empat baris tulisan.
Kutipan dipisahkan dari teks, jarak baris dengan baris kutipan satu
spasi, kutipan boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip. Kutipan
disertai sumber informasi kutipan.
Contoh:
Suria
Sumantri
(1987:165) mengemukakan bahwa :
“Perbedaan
utama antara manusia dan binatang, terletak pada kemampuan manusia
untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh
pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka
secara langsung mencari objek yang diinginkannya atau membuang benda
yang menghalanginya. Dengan demikian, sering kita melihat seekor
monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan;
sedangkan manusia yang paling primitif pun telah tahu mempergunakan
bandringan, laso, atau melempar dengan batu. Manusia sering disebut
homo faber, makhluk yang membuat alat. Kemampuan membuat alat itu
dimungkinkan oleh pengetahuan itu juga membutuhkan alat-alat.
Kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan.
Berkembangnya pengetahuan itu juga membutuhkan alat-alat.”
2.
Kutipan Tidak Langsung
Kutipan
tidak langsung adalah kutipan yang dikemukakan dengan bahasa penulis
sendiri. Kutipan tidak langsung ditulis tanpa tanda kutip, langsung
diintegrasikan dengan teks, jarak spasi dalam kutipan dua spasi,
disertai sumber informasi kutipan yang tidak selalu menyebutkan nomor
halaman.
Contoh:
Herawati
(1999:31) menyimpulkan bahwa siswa jurusan ekstra memiliki kemampuan
menulis karya ilmiah yang lebih baik daripada siswa jurusan sosial.
E.
Teknik Penulisan Daftar
Pustaka
Daftar
pustaka atau bibliografi yang berisi buku, makalah, artikel, atau
bahan lainnya mempunyai pertalian dengan sebuah tulisan atau sebagian
dari tulisan yang sedang dibuat.
Unsur-unsur
yang ditulis dalam daftar
pustaka secara berturut-turut meliputi:
- nama penulis,
- tahun penerbitan,
- judul tulisan,
- kota tempat penerbitan, dan
- nama penerbit.
Penulisan
daftar pustaka, secara umum adalah sebagai berikut.
- Daftar Pustaka disusun secara alfabet (A,B,C,.....) berturut-turut dari atas ke bawah tanpa menggunakan angka arab, tanda hubung, dan semacamnya.
- Cara penulisan sebuah sumber pustaka berturut-turut adalah sebagai berikut.
- Penulisan nama pengarang
Nama
pengarang bagian belakang (nama akhir atau nama keluarga) ditulis
lebih dahulu, diikuti tanda koma baru nama bagian depan kemudian
diikuti titik. Jika buku disusun oleh sebuah komisi atau lembaga,
dipakai menggantikan nama pengarang. Jika tidak ada nama pengarang,
urutannya harus dimulai dengan judul buku.
- Menuliskan tahun terbit buku, diikuti tanda titik
- Menuliskan judul buku, diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf miring, diikuti tanda titik
- Menuliskan tempat atau kota penerbitan, diikuti tanda titik dua.
- Menuliskan nama penerbit dan diikuti tanda titik
- Apabila digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama penulisnya, sumber ditulis dari buku yang lebih dulu terbit diikuti buku yang terbit kemudian.
- Bila tidak ada nama penulis, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan alfabet.
- Jarak antara baris dan baris untuk satu referensi adalah satu spasi tetapi jarak antara pokok dengan pokok adalah dua spasi.
- Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak empat ketukan mesin tik.
- Apabila sebuah referensi ditulis oleh lebih dari dua orang penulis, hanya satu nama yang dicantumkan dalam daftar pustaka dengan susunan nama terbalik. Untuk nama penulis lainnya disingkat dkk atau dll.
Selain
ketentuan di atas, ada ketentuan-ketentuan khusus sebagai berikut.
- Sumber dari artikel dan buku artikel
Nama
penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan.
Judul artikel ditulis tanpa garis bawah atau huruf miring. Nama
editor ditulis seperti menulis nama biasa, diberi keterangan (ED)
atau (eds). Judul buku kumpulannya digaris bawahi atau ditulis dengan
huruf miring dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung.
Contoh:
Atikah,
H.Z. 1998. Karakteristik Penilaian Kualitatif, dalam Kurniasih (ED).
Pengembangan
Penilaian Kualitatif dalam Mata Pelajaran Bahasa dan
Sastra
Indonesia (hlm.
36-43). Bandung: PSBS Cabang Bandung.
- Sumber dari artikel dalam jumlah
Nama
judul (majalah ilmiah) ditulis dengan garis bawah atau huruf miring.
Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal tahun ke berapa dan nomor
dari halaman artikel tersebut.
Contoh:
Sunarti.
1994. PAN
dan PAP dalam Penilaian Keberhasilan Belajar Semiotika,
(02);13- 22.
- Sumber dari artikel dalam majalah atau koran
Nama
pengarang ditulis paling depan diikuti oleh tahun, dan bulan (jika
ada). Nama majalah diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf
miring. Nomor halaman disebut pada bagian akhir.
Contoh:
Huda,
N. 1991. 13 November. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering. Jawa
Pos,
hlm. 6.
- Sumber dari koran tanpa pengarang
Judul
ditulis pada bagian awal. Tahun, tanggal, dan bulan ditulis sebelah
judul. Kemudian, nama surat kabar ditulis dengan garis bawah atau
dengan huruf miring dan diikuti nomor halaman.
Contoh
:
Perkembangan
Properti Indonesia. 1999, 21 September. Kompas,
hlm 7.
- Sumber dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa pengarang dan tanpa lembaga.
Judul
atau dokumen ditulis di bagian awal dengan diberi garis bawah atau
ditulis dengan huruf miring, diikuti tahun penerbitan dokumen, kota
penerbit, dan nama penerbit.
Contoh:
Undang-Undang
Republik Indonesia, No.2 Th. 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta.
PT Armas Dutajaya.
- Sumber berupa karya terjemahan
Nama
pengarang asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan karya
asli, judul terjemahan, nama penerjemah, tahun terjemahan, nama
tempat penerbitan, dan nama penerbit terjemahan. Apabila tahun
penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis dengan kata “Tanpa
tahun”.
Contoh:
Ary,
Donald L.C. Jacobs, dan A. Rozawick. “Tanpa tahun”. Pengantar
Penelitian Pendidikan.
Arif Furchan (pen). 1982. Surabaya:Usaha
Nasional.
- Sumber berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi
Nama
penyusun ditulis paling depan, diikuti tahun yang tercantum pada
sampul. Judul skripsi dan tesis ditulis dengan garis bawah atau huruf
miring diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis, atau disertasi tidak
diterbitkan, nama kota tempat perguruan tinggi, serta nama fakultas
dan perguruan tinggi.
Contoh:
Solihin.
1992. Kesesuaian
TIK, KBM, dan Evaluasi Mahasiswa PPL Universitas Lampung.
Skripsi tidak diterbitkan. Lampung: FKIP
Universitas
Lampung.
- Sumber berupa makalah yang disajikan dalam seminar
Nama
penyusun ditulis paling depan, diikuti dengan tahun, judul makalah,
pernyataan makalah disajikan dalam nama pertemuan yang diikuti
ditulis dengan garis bawah atau huruf miring, lembaga penyelenggara,
tempat, dan tanggal penyelenggaraan.
Contoh:
Kuntarto,
Bambang. 1999. HIV di Kalangan Remaja. Makalah disajikan dalam
Seminar
Kesehatan, Pemda Kabupaten Lebak,
Lebak, 10-11 September 1999.
F.
Teknik Penulisan Istilah (Indeks)
Dalam
setiap karya ilmiah, terdapat banyak istilah yang digunakan. Istilah-
istilah tersebut dipergunakan untuk memberi penguatan atau dukungan
agar tulisan berbobot dan ilmiah. Beberapa istilah memang sudah
merupakan unsur serapan bahasa Indonesia, namun ada istilah yang
masih murni berbentuk bahasa aslinya, belum diserap. Oleh sebab itu,
ada beberapa istilah yang memang harus dijelaskan pengertiannya.
Istilah-istilah
yang dipergunakan dalam suatu tulisan biasanya dikumpulkan di bagian
akhir. Bagian daftar istilah disebut indeks. Indeks berguna bagi
pembaca untuk mencari kata yang terdapat di dalam tulisan, khususnya
karya tulis atau laporan berbentuk buku. Oleh sebab itu, cara
penulisan indeks harus disusun berdasarkan abjad setelah dibuat
daftar istilah atau kata-kata penting yang perlu diindekskan. Selain
disusun berdasarkan abjad, juga disertakan nomor halaman tempat
istilah tersebut berada agar mudah mencarinya.
G.
Format Penulisan Laporan Ukuran dan Jenis Kertas
Format
penulisan sesuai dengan sistematika laporan formal di atas. Format
penulisannya tergambarkan dalam daar isi dengan pengetikan
atau penulisan yang teratur, terperinci, dan jelas bagian-bagiannya.
Adapun teknik penulisan meliputi hal-hal sebagai berikut
1.
Margin
Ukuran
margin terdiri atas batas kiri dan batas atas 4 cm. Serta batas kanan
dan batas bawah 3 cm dari pinggir kertas. Semua tulisan termasuk
tabel dan gambar berada dalam margin. Subjudul bagian bawah halaman
harus diikuti dengan dua baris penuh di bawahnya, bila tidak
memungkinkan subjudul ditulis pada halaman berikutnya.
Begitupun
kata terakhir pada suatu halaman tidak boleh dipisahkan ke halaman
berikutnya tetapi seluruh kata ditulis pada halaman berikutnya.
Perhatikan gambar berikut ini:
\
3
cm
4
cm
4
cm
3 cm
2.
Spasi
Secara
umum keseluruhan tulisan menggunakan spasi ganda. Kecuali untuk
tabel, daftar pustaka, dan kutipan mempergunakan pula spasi tunggal
(sesuai dengan aturan penulisan kutipan dan daftar pustaka). Alinea
baru dapat dimulai dengan perbedaan spasi.
3.
Penomoran
Penomoran
meliputi penomoran halaman, bab, subbab, dan rincian uraian.
a.
Penomoran Halaman
Halaman-halaman
pendahuluan diberi nomor dengan menggunakan angka romawi kecil.
Halaman-halaman isi dan penunjang menggunakan angka arab. Letak
penomoran halaman ditempatkan di tengah dan dua spasi di atas margin
bawah (bottom,
center,
headfooter 2,2
cm)
b.
Penomoran Bab dan Subbab
Penomoran
mempergunakan penanda urutan sebagai berikut.
- Tingkat pertama dengan tanda: I, II, III, IV, V, dan seterusnya.
- Tingkat kedua dengan tanda: 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, 1.5, dan seterusnya.
- Tingkatan ketiga dengan tanda: 1.1.1, 1.1.2, 1.1.3, 1.1.3, 1.1.4, 1.1.5, dan seterusnya.
- Tingkatan keempat dengan tanda: 1.1.1.1, 1.1.1.2, 1.1.1.3, 1.1.1.4, dan seterusnya.
- Tingkatan kelima dengan tanda: 1.1.1.1.1, 1.1.1.1.2, 1.1.1.1.3, 1.1.1.1.4, dan seterusnya.
4.
Tabel atau Gambar
a.
Tabel
Sebuah
tabel terdiri atas nomor dan judul tabel, stub,
box head,
dan body.
Nomor tabel ditulis dengan angka arab. Penomoran tabel menurut bab,
misalnya nomor tabel 2.1, artinya tabel tersebut tabel pertama yang
ada pada bab kedua. Judul harus padat dan dapat memberikan keterangan
tentang data yang tercantum dalam tabel.
Judul
ditulis dengan huruf kapital setiap unsur katanya kecuali kata
hubung. Apabila tabel bersumber pada tulisan atau referensi lain,
tuliskan sumber referensinya pada bawah tabel.
b.
Gambar
Istilah
gambar mencakup di dalamnya diagram bundar, batang, garis, histogram,
dan sebagainya. Gambar harus diberi nomor dan judul. Pemberian nomor
dan judul tidak berbeda dengan pemberian nomor dan judul pada tabel.
Perbedaannya terletak pada penempatan. Nomor dan judul gambar
diletakkan di bawah gambar.
5.
Bahasa
Bahasa
yang dipergunakan dalam laporan ilmiah harus mengandung kejelasan dan
reproduktif. Untuk ejaan dan peristilahan berpedoman pada EYD dan
Pedoman Pembentukan Istilah.
6.
Jenis Kertas
Jenis
kertas yang dipakai adalah jenis HVS, ukuran folio, atau kuarto
bergantung pada aturan yang telah ditetapkan.
Laporan
Penelitian
Magang
sebagai Jembatan Mobilitas Sosial
dari
Petani menjadi Perajin
I.
Pendahuluan
Perajin sering dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi
daripada petani. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa seorang
perajin biasanya bekerja di dalam rumah, terlindung dari terik sinar
matahari sehingga suasananya tampak nyaman. Sebaliknya, petani harus
bekerja di sawah, di bawah sengatan sinar matahari, dan kadang harus
bergumul dengan kotoran-kotoran yang berbau tidak sedap. Oleh karena
itu, tidak berlebihan jika sebagian masyarakat pedesaan masih
menganggap bahwa pekerjaan perajin lebih berprestise daripada petani
meskipun hanya menjadi perajin industri kecil dengan skala usaha
yang masih terbatas.
Lapangan pekerjaan di sektor industri kecil yang makin terbuka
menyebabkan terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin.
Meskipun sebenarnya mereka belum memiliki keahlian yang memadai,
terlebih lagi tingkat pendidikan mereka sebagian besar (73%) masih
berpendidikan SD ke bawah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
produktivitas kerja dan hasil yang mereka peroleh masih rendah.
Berkaitan dengan hal di atas, perlu diadakan penelitian yang
saksama mengenai mobilitas sosial dan petani menjadi perajin. Dalam
laporan ini, objek penelitiannya adalah masyarakat pedesaan di
sekitas Surakarta, Jawa Tengah.
II. Tujuan
Penelitian
- Menelaah penyebab terjadinya mobilitas sosial dari petani menjadi perajin
- Memberikan penyadaran pada masyarakat dampak industrialisasi
III.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan survei secara kualitatif
dengan cara melakukan wawancara dengan narasumber. Digunakannya
metodologi kualitatif agar hasil yang dicapai benar-benar akurat dan
dapat dipertanggungjawabkan. Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai
berikut.
1. Menentukan objek penelitian
2. Melakukan wawancara dengan narasumber
3. Mengklasifikasi masalah
4. Merumuskan masalah
5. Memberikan solusi/simpulan
IV.
Hasil Penelitian
Berdasarkan survei yang telah dilakukan, ada beberapa faktor yang
menyebabkan mobilitas sosial dari petani menjadi perajin melalui
proses magang sebagai berikut.
1. Pengaruh media masa
Media massa baik berupa media elektronik maupun cetak telah
membawa pengaruh yang besar terhadap pola pikir masyarakat pedesaan.
Selama ini, media massa selalu mengangkat kesuksesankesuksesan
seorang perajin. Dengan demikian, lambat laun opini
publik tersebut akhirnya mendorong keinginan petani untuk
menjadi perajin.
2. Dukungan sosial
keluarga dan masyarakat
Keluarga, kerabat dekat, dan komunitas yang melatari kehidupan
petani sering memberikan saran dan harapan yang besar untuk menjadi
perajin. Mereka selalu memandang orangorang yang telah sukses berkat
usaha menjadi seorang perajin industri kecil meskipun mereka masih
berstatus magang atau buruh kontrak.
3. Sistem perekonomian Indonesia yang lebih mengutamakan sektor
industri daripada pertanian
Perekonomian negara kita yang terbawa arus globalisasi dan
kepentingan neoliberalisme (para pemilik modal) telah mendorong
lajunya industrialisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
investasi yang mereka tanamkan lebih mengarah pada sektor industri.
4. Tingkat pendidikan yang rendah
Rendahnya tingkat pendidikan mereka dan keahlian yang belum
memadai membuat mereka tidak memiliki sistem kontrol diri yang kuat.
Konsep diri yang lemah ini menyebabkan mereka mudah terbawa arus
zaman.
V.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa faktor yang menyebabkan para petani melakukan mobilitas
sosial menjadi perajin. Jika tidak ada suatu program penyadaran baik
dari pemerintah maupun masyarakat setempat, dapat dipastikan hasil
produksi pertanian akan makin berkurang sehingga negara pun akan
mengimpor beras dari luar negeri.
Akhirnya, diharapkan penelitian ini mampu memberikan penyadaran
pada masyarakat dan dapat menjadi masukan untuk pihak-pihak
yang berwenang memberikan kebajikan.
Pihak-pihak tersebut misalnya para dewan legislatif dan eksekutif
supaya memberikan arahan dan rencana pembangunan yang lebih berpihak
pada sektor pertanian, terutama masyarakat miskin pedesaan.
(Sumber : Rank Karsidi,Paedagogia Jilid 3, Nomor 1)
semoga bermanfaat...
BalasHapus